BERITA TERBARU

Peringati Haul ke-16 Wali Nanggroe, KPA Samudera Pase: Perjuangan Harus Berlanjut

By On 09:44

Doa Bersama Peringatan Haul ke-16 Paduka yang Mulia Dr. Tgk. Hasan Muhammad di Tiro, Wali Nanggroe Aceh di Kantor KPA Samudera Pase. Foto: ReportNews.id

ACEH UTARA, ReporNews.id
- Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Samudera Pase menggelar peringatan Haul ke-16 Paduka Yang Mulia Dr. Tgk. Hasan Muhammad di Tiro, Wali Nanggroe Aceh. Acara penuh makna ini berlangsung di Kantor Merah, Meunasah Mancang, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, pada Kamis (4/6/2026).

Momen peringatan 16 tahun berpulangnya Wali Nanggroe ini dijadikan tonggak pengingat sekaligus penguat semangat bagi seluruh elemen masyarakat untuk meneruskan cita-cita perjuangan Aceh.

“Enam belas tahun lalu, beliau mendahului kita semua menghadap Ilahi. Momen hari ini kita gunakan untuk mengenang, sekaligus mengobarkan semangat melanjutkan perjuangan agar Aceh benar-benar menuju kesejahteraan yang sesungguhnya,” sebut Pon Yaya selaku Ketua KPA Wilayah Samudera Pase.

Panglima Wilayah Samudera Pase, Saiful Bahri Pon Yaya menegaskan bahwa perjuangan bangsa Aceh belum selesai, namun kini arahnya telah berubah menuju fase perdamaian demi mencapai kesejahteraan bersama. Harapan besar ditujukan kepada Pemerintah Aceh agar segera mewujudkan seluruh poin kesepakatan yang telah ditandatangani.

“Kami sangat optimis, apalagi pemimpin Aceh saat ini adalah Kepala Pemerintah Aceh yang merupakan Panglima GAM, anak didik langsung dari Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Terkait pandangan mengenai keberadaan Aceh dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dijelaskan bahwa kekhawatiran sebelumnya mengenai pemisahan wilayah sudah tidak relevan. Dalam konteks perdamaian, Aceh tetap berada di bawah naungan NKRI namun diberikan kewenangan khusus untuk mengelola rumah tangganya sendiri, kecuali pada enam kewenangan utama negara.

“Tidak ada lagi istilah mengulir atau membatalkan keputusan pemerintah pusat selama itu masih dalam lingkup kewenangan Indonesia yang harus dilaksanakan. Contohnya, mata uang tetap Rupiah, tidak ada duta besar Aceh di negara sahabat, keamanan nasional di bawah Polri, dan pertahanan luar negeri menjadi kewenangan TNI, hal ini tidak akan kita pertikaikan lagi. Namun, kita tetap memantau jumlah personel TNI yang di Aceh, sesuai kesepakatan yaitu sebanyak 14.700 personel,” jelasnya.

Menyangkut isu bendera Aceh yang sempat menjadi perbincangan, pihaknya menyerahkan penjelasan lebih lanjut kepada Kepala Pemerintah Aceh selaku pemegang kebijakan tertinggi di daerah. Meski demikian, harapan agar bendera tersebut dapat dikibarkan sesegera mungkin tetap disampaikan kepada publik.

“Terkait bendera Aceh, lebih tepatnya Kepala Pemerintah Aceh yang akan menjelaskan sejauh mana progresnya. Kita berharap dan menunggu, semoga sesegera mungkin dapat dikibarkan,” jelas Pon Yaya.

Pesan utama yang disampaikan dalam Haul ini adalah pentingnya mengisi kemerdekaan dan perdamaian dengan pembangunan yang nyata, berkeadilan, dan mensejahterakan rakyat. Mengingat sistem pemerintahan yang berganti setiap lima tahun sekali melalui pemilu, seluruh elemen bangsa Aceh diminta untuk bersatu dan menjadikan isi Nota Kesepahaman (MoU) sebagai harga mati yang wajib dilaksanakan oleh siapa pun pemimpin yang menjabat nantinya.

“Kita berharap semua pihak terus berkontribusi menjaga keberlanjutan perdamaian. Perdamaian tanpa diisi pembangunan menuju kesejahteraan dan keadilan hanyalah kepalsuan. Siapa pun nanti penyelenggara pemerintahan di Aceh, komitmen terhadap MoU adalah harga mati. Jangan sampai kesepakatan yang sudah ditandatangani ini baru terlaksana sepuluh atau dua puluh tahun lagi,” tegas Pon Yaya.

Peringatan Haul ini berlangsung sangat meriah dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting serta elemen masyarakat. Di antaranya Bupati Aceh Utara, Ismail A Jalil yang akrab disapa Ayahwa, Wakil Bupati Aceh Utara, Tarmizi, Abu Arongan, Panglima Wilayah Samudera Pase, Kadhi Wilayah, Tuha Empat Partai, Panglima Muda Daerah 1 hingga 4, Panglima Sagoe se-Wilayah Samudera Pase, Ketua Partai Aceh, serta para santri dan Aneuk Syuhada.

Secara keseluruhan, tercatat sekitar 750 orang hadir memadati lokasi acara yang terdiri dari 200 orang santri, 300 orang anggota Majelis KPA PA, 150 orang Aneuk Syuhada, serta 100 orang lainnya yang merupakan perwakilan dari masyarakat umum.

Rangkaian acara dipandu oleh Tgk. Abdul Hadi selaku Pembawa Acara. Kegiatan diawali dengan kata sambutan dari Bupati Aceh Utara ayahwa, Ketua DPW Partai Aceh Aceh Utara M. Jhony, dan Panglima Wilayah Samudera Pase Saiful Bahri Pon Yaya.

Acara kemudian ditutup dengan tausiyah serta doa yang dipimpin langsung oleh Abu Arongan. Selain itu, kegiatan juga diisi dengan doa bersama dan penyaluran santunan bagi anak yatim, serta sesi mengenang kesan dan pesan almarhum Wali Nanggroe. (*)

- Jurnalis Armia Jamil -  



Peringati Haul ke-16 Wali Nanggroe, Kuta Pase Tekankan Komitmen Wujudkan Cita-cita Aceh Berdaulat

By On 15:21

Peringati Haul ke-16 Wali Nanggroe di Kuta Pase, Lhokseumawe. Foto: Dok. ReportNews.id.

LHOKSEUMAWE, ReportNews.id - Peringatan Haul Wali Nanggroe ke-16 digelar khidmat di Masjid Attahrir, Kuta Pase, Desa Meunasah Manyang, Lhokseumawe.  Acara tersebut yang dihadiri lebih dari 600 orang ini menjadi momentum memperbarui komitmen perjuangan Aceh. Rabu, 3 Mei 2026.

Pantauan di lokasi, kegiatan dihadiri Majelis Wilayah Kuta Pase, jajaran Daerah dan Sagoe KPA, pengurus Partai Aceh, Wakil Wali Kota, perwakilan Jasa, Inoeng Bale, tokoh ulama, serta masyarakat umum.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Dalam kata sambutannya, M. Yasir menekankan pentingnya kesadaran bersama dan kesabaran untuk mewujudkan cita-cita yang telah ditanamkan Almarhum Wali Nanggroe.

Ia juga menyampaikan pesan kepada pihak keamanan agar tidak terlalu paranoid setiap ada kegiatan yang digelar KPA-PA,” ujarnya.

Sebagai bentuk kepedulian, acara dilanjutkan santunan simbolis kepada 10 anak yatim. Total anak yatim yang disantuni mencapai 100 orang.Doa bersama kemudian dipimpin Qadhi Wilayah Kuta Pase, Tgk. H. Syahabuddin atau yang akrab disapa Abah Alue Awe.

Acara dilanjutkan dengan tausiyah disampaikan Abon Arongan yang memberikan tamsilan tentang hubungan pemimpin dan rakyat. Menurut Abon Arongan, dalam hidup harus ada kesadaran bersama untuk merawat nilai-nilai perjuangan, bukan sekadar mengenangi masa lalu.

Panglima Wilayah Kuta Pase Mukhtar Hanafiah alias Ableh Kandang melalui Juru Bicara KPA Halim Abe menyampaikan pesan khusus pada haul tahun ini. “Haul ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi momentum memperbarui komitmen terhadap cita-cita besar Aceh, menjadi bangsa yang berdaulat di atas tanah pusaka leluhur dengan merawat nilai-nilai keIslaman dan budayanya,” tegasnya.

Ia menambahkan, 16 tahun pasca wafatnya sang proklamator, warisan terbesar beliau bukan romantisme sejarah, melainkan keberanian berpikir besar tentang masa depan Aceh.“Karena itu, penghormatan terbaik kepada beliau bukan hanya sekadar memperingati haul dengan mengenang dan berdoa semata, tetapi kerja nyata untuk memastikan amanah perjuangan yang telah beliau bangun dengan susah payah tetap hidup dalam perilaku kebijakan, kepemimpinan, dan pengabdian kepada rakyat menuju Aceh yang baldatun, Tayyibatun warabbun ghafur,” pungkas Halim Abe.

Haul Wali Nanggroe ke-16 ini ditutup dengan doa bersama untuk almarhum dan keberlangsungan Aceh ke depan. (*)

- Jurnalis Armia Jamil -

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *