Puluhan Masjid dan Pesantren Se-Jawa Serentak Peringati Haul ke-721 Sultan Al-Malik Azh-Zhahir

Peringati Haul ke-721 Sultan Al-Malik Azh-Zhahir di gelar di Masjid dan Pesantren secara serentak. Foto: ReportNews.id

MALANG, ReportNews.id - Suasana haru dan damai menyelimuti puluhan masjid, langgar, dan lembaga pendidikan Islam di berbagai penjuru Pulau Jawa, Sabtu (30/5). Dalam momen peringatan 721 tahun kepergian Sultan Al-Malik Azh-Zhahir, seluruh jamaah yang tergabung dalam wadah Masyarakat Penggiat Sejarah Nusantara (MAPSINU) bersatu menggelar rangkaian doa bersama, pembacaan tahlil, serta zikir guna mengenang jejak perjuangan salah satu tokoh paling bersejarah dalam penyebaran Islam di wilayah ini, Sabtu (30/5/2026).

Gema lantunan ayat suci Al-Qur'an berpadu dengan bacaan doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati, menjadi bukti nyata bahwa nama, jasa, dan keteladanan para ulama, pemimpin, dan penyebar ajaran Islam masa lampau tak pernah pudar dari ingatan umat. Meski berabad-abad telah berlalu, kasih sayang dan rasa hormat masyarakat terhadap pendiri peradaban Islam Nusantara tetap terpelihara dengan baik hingga hari ini.

Sultan Al-Malik Azh-Zhahir dikenal luas sebagai putra kebanggaan Sultan Malik Ash-Shalih dan pemimpin besar Kesultanan Samudra Pasai. Beliau dicatat sejarah sebagai sosok kunci yang berperan vital dalam memperkokoh syiar Islam, membangun peradaban yang maju, serta mengangkat nama Pasai menjadi pusat penyebaran ajaran Islam yang pertama dan paling berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Rangkaian kegiatan ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari jamaah Langgar GIPO Surabaya—yang sebagian besar merupakan keturunan Sunan Ampel—Pondok Pesantren Darusholihin Jombang, hingga Pondok Pesantren As-Sanaya Kedungkandang Malang di bawah asuhan Kyai Abi Mujalis. Hadir pula ulama, tokoh masyarakat, akademisi, dan para pemuda yang antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Dalam kekhusyukan itu, seluruh jamaah berdoa memohon kepada Allah SWT agar melimpahkan rahmat, ampunan, dan kedudukan terbaik bagi Almarhum Sultan, serta menjadikan nilai-nilai perjuangan beliau sebagai sumber inspirasi bagi umat masa kini.

Ketua Pengurus MAPSINU, K.P. Aryo Tumapel yang baru saja menyelesaikan kajian sejarah mendalam di wilayah Pasai dan Aceh mengatakan bahwa peringatan haul ini memiliki makna jauh lebih dalam daripada sekadar mengenang kepergian seorang pemimpin berabad silam. Menurutnya, momen ini adalah sarana menghidupkan kembali nilai-nilai luhur: keislaman yang kokoh, semangat berjuang, persatuan umat, serta kecintaan mendalam terhadap sejarah peradaban bangsa sendiri.

“Peringatan ini adalah jembatan penghubung sejarah dan doa. Kami ingin memastikan generasi muda hari ini tetap mengenal siapa para pendahulu yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi tegaknya Islam di bumi Nusantara. Melalui doa bersama ini, kami berharap keberkahan dan semangat juang mereka terus mengalir dan menguatkan kita semua yang hidup di masa sekarang,” ungkap Aryo Tumapel dengan penuh keyakinan.

Pelaksanaan serentak di berbagai wilayah ini menjadi cerminan kuatnya ikatan batin dan spiritual masyarakat dengan warisan sejarah Islam mereka. Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, kumandang tahlil dan doa yang menggema dari masjid hingga pesantren menjadi pengingat penting: kemajuan sebuah bangsa tidak boleh memutus akar sejarah dan melupakan jasa para pendiri negeri.

Pagi itu, saat embun masih membasahi tanah dan udara terasa sejuk menyapa, ribuan tangan terangkat serentak ke langit dalam permohonan. Banyak di antara mereka yang menitikkan air mata saat mengingat kembali kisah wafatnya Sultan Al-Malik Azh-Zhahir yang tercatat terjadi tepat pada 12 Dzulhijjah—hari ketiga perayaan Iduladha—721 tahun yang lalu.

Kepergian beliau menjadi salah satu peristiwa duka terbesar dalam sejarah Islam Asia Tenggara. Saat itu, dunia tidak hanya kehilangan seorang pemimpin negara, tetapi juga sosok ulama besar, pejuang gagah berani, dan pemersatu umat yang pada zamannya dijuluki sebagai “Matahari Dunia dan Agama”. Sebuah gelar agung yang mewakili kemuliaan akhlak, keluasan ilmu pengetahuan, serta pengaruh besar beliau dalam menerangi jalan peradaban Islam.

Kini, tujuh abad lebih telah berlalu sejak kepergiannya, namun nama beliau masih terus disebut dalam doa-doa umat Islam di sepanjang Nusantara. Jejak langkahnya tetap diingat, sementara nilai-nilai yang beliau wariskan terus berdenyut menjadi bagian dari kehidupan beragama kita hingga hari ini.

Karena sejatinya, sejarah bukan sekadar catatan masa lalu untuk dikenang saja, melainkan lautan hikmah yang harus dipetik dan dijadikan pelajaran, serta semangat perjuangan yang wajib diteruskan. Mengenang para pendahulu adalah cara kita menjaga jati diri bangsa dan merawat benih peradaban agar tidak terputus oleh gempuran waktu.

Semoga Allah SWT menerima segala amal saleh Sultan Al-Malik Azh-Zhahir, melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, menempatkan beliau bersama para syuhada, ulama, dan orang-orang yang berkedudukan mulia di sisi-Nya, serta menjadikan bangsa ini senantiasa teguh menjaga warisan suci Islam yang telah ditanamkan para pendahulu. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

-Jurnalis Armia Jamil -


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama