BERITA TERBARU

Datang Membawa Harapan, Pulang Meninggalkan Antrean

By On 20:24

Suasana Antrian Sepeda Motor di SPBU di Aceh. Foto: For ReportNews.id
Penulis: Muhammad Anil Alwi, Sekretaris PC PMII Lhokseumawe

ReportNews.id - Antrean panjang di SPBU kini menjadi potret yang hampir setiap hari terlihat di berbagai daerah di Aceh, khususnya Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Kendaraan roda dua maupun roda empat mengular sejak pagi hingga malam hanya untuk mendapatkan Pertalite. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya soal menunggu. Namun bagi sopir angkutan, pedagang, nelayan, pekerja harian, mahasiswa, dan masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada kendaraan, antrean panjang berarti hilangnya waktu, berkurangnya pendapatan, dan terganggunya produktivitas.

Ironisnya, di tengah keresahan masyarakat, penjelasan yang diterima publik masih sangat terbatas. Ketidakjelasan informasi membuka ruang bagi berbagai spekulasi yang sulit dibendung. Padahal, dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan bukan sekadar imbauan untuk tetap tenang, melainkan keterbukaan mengenai kondisi pasokan, penyebab gangguan distribusi, serta langkah-langkah yang sedang dilakukan untuk mengatasinya.

Kedatangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ke Aceh beberapa waktu lalu semestinya menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa persoalan energi di daerah mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Masyarakat tentu memahami bahwa satu kunjungan tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan. Namun, publik juga berhak berharap adanya tindak lanjut yang nyata. Sebab ukuran keberhasilan sebuah kunjungan bukanlah banyaknya agenda yang dilaksanakan, melainkan perubahan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat setelahnya.
Muhammad Anil Alwi, Sekretaris PC PMII Lhokseumawe.
Persoalan BBM tidak boleh dipandang hanya sebagai urusan distribusi. Ini juga menyangkut roda perekonomian daerah. Ketika distribusi BBM terganggu, aktivitas perdagangan ikut melambat, biaya transportasi meningkat, dan produktivitas masyarakat menurun. Jika kondisi ini berlangsung lama, dampaknya akan dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat.

Karena itu, evaluasi terhadap sistem distribusi BBM di Aceh menjadi sesuatu yang mendesak. Jika persoalannya terletak pada pasokan, maka pemerintah bersama Pertamina harus memastikan pasokan segera kembali normal. Jika terdapat hambatan distribusi, maka hambatan tersebut harus dibuka seterang-terangnya kepada publik beserta solusi yang sedang dijalankan. Jika diperlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap penyaluran BBM bersubsidi, maka pengawasan itu harus diperkuat agar subsidi benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang berhak.

Yang tidak kalah penting adalah komunikasi publik. Dalam era keterbukaan informasi, diam bukanlah pilihan. Masyarakat berhak mengetahui apa yang sedang terjadi, bukan dibiarkan membangun kesimpulan sendiri. Kepercayaan publik lahir dari transparansi, bukan dari spekulasi.

Pada akhirnya, masyarakat Aceh tidak sedang meminta sesuatu yang istimewa. Mereka hanya ingin mendapatkan hak dasar sebagai warga negara: memperoleh BBM bersubsidi dengan mudah, tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam di antrean. Negara yang hadir bukanlah negara yang sekadar datang melihat kondisi, tetapi negara yang mampu memastikan persoalan masyarakat benar-benar terselesaikan.

Sebab rakyat tidak menilai dari seberapa sering pejabat berkunjung ke daerah, melainkan dari seberapa nyata perubahan yang mereka rasakan setelah kunjungan itu berakhir. (*)

Tarmizi Age: Bumi Aceh Kaya, Namun Rakyat Belum Merasakan Kebahagiaan

By On 18:42

Tarmizi Age (Mukarram). Foto: For ReportNews.id
BANDA ACEH, ReportNewsid - Kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Aceh dinilai belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakatnya. Pandangan tersebut disampaikan Tarmizi Age atau Mukarram, tokoh yang dikenal sebagai kreator konten asal Aceh, Senin (13/7/2026).

Menurut Tarmizi, Aceh memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari sektor minyak dan gas bumi, pertambangan mineral, perkebunan hingga kelautan. Berbagai komoditas unggulan seperti minyak bumi, gas alam, emas, perak, batu bara, nikel, kopi, minyak nilam, kelapa sawit, lada, dan hasil perikanan menjadi kekayaan yang selama ini dimiliki daerah tersebut.

"Sayangnya, kekayaan alam yang melimpah itu belum mampu membuat rakyat Aceh hidup lebih bahagia dan sejahtera," ujar Tarmizi.

Ia kemudian membandingkan Aceh dengan Finlandia, negara yang menjadi lokasi penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Perdamaian Aceh pada 2005. Menurut World Happiness Report, Finlandia selama beberapa tahun terakhir menempati posisi sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan masyarakat tertinggi di dunia.

Tarmizi menjelaskan bahwa sumber daya utama Finlandia didominasi oleh hutan, industri kayu dan pulp, mineral, serta sumber daya air bersih. Negara tersebut juga dikenal menghasilkan berbagai produk pertanian serta buah-buahan liar seperti blueberry dan lingonberry.

Sementara itu, Indonesia dalam World Happiness Report berada pada peringkat ke-87 dari sekitar 140 negara.

Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Pusdatin KESDM), Aceh memiliki sedikitnya 39 jenis komoditas mineral dan batu bara. Komoditas logam meliputi besi primer, timbal, seng, emas primer, perak, tembaga, molybdenum, air raksa, platina, pasir besi, emas aluvial, kobalt, titan placer, besi laterit, hingga nikel.

Selain itu, Aceh juga memiliki berbagai komoditas mineral bukan logam dan batuan seperti batu gamping, marmer, granit, andesit, lempung, sirtu, diorit, tras, rijang, serpentinit, basal, ultrabasa, felspar, dolomit, pasir kuarsa, dasit, bentonit, kuarsit, batu sabak, fosfat, magnesit, giok, serta kayu terkersikkan.

Cadangan batu bara juga tersebar di sejumlah wilayah, terutama di Kabupaten Aceh Barat yang telah memasuki tahap eksploitasi.

Tarmizi menambahkan bahwa masyarakat Aceh berharap kekayaan alam, termasuk potensi minyak dan gas di Blok Andaman, dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan rakyat.

"Harapan masyarakat sangat sederhana, yakni agar kekayaan alam Aceh dan hasil perdamaian benar-benar menghadirkan kemakmuran serta meningkatkan kesejahteraan rakyat hingga ke pelosok perkampungan," tutup Tarmizi Age yang juga pernah menetap di Denmark, Eropa. (*)

- Jurnalis Armia Jamil -

Warga Aceh Keluhkan BBM Langka, Haji Uma Langsung Gerak Cepat, Ini Jawaban Pertamina

By On 21:26

Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman Haji Uma. Foto: Foto ReportNews.id
LANGSA, ReportNews.id – Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, menerima aduan dari masyarakat terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang (Kuala Simpang) yang telah berlangsung selama sekitar tiga hari terakhir. Minggu 12/7/2026.

Masyarakat mengeluhkan sulitnya memperoleh BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kondisi tersebut menyebabkan antrean kendaraan di beberapa SPBU, sementara sebagian masyarakat terpaksa membeli BBM dari pedagang eceran dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga normal.

Di tengah kelangkaan tersebut, beredar informasi di masyarakat yang menyebutkan adanya pengurangan kuota maupun alokasi BBM bersubsidi untuk wilayah Langsa dan Aceh Tamiang. Informasi itu kemudian memunculkan keresahan karena dikhawatirkan akan memperpanjang kelangkaan dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Haji Uma langsung menghubungi Sales Area Manager Retail Aceh PT Pertamina Patra Niaga, Misbahul Bukhori, untuk meminta penjelasan terkait penyebab kelangkaan BBM yang terjadi.

Dalam keterangannya kepada Haji Uma, Misbahul Bukhori memastikan bahwa informasi mengenai adanya pengurangan kuota BBM untuk wilayah Langsa dan Aceh Tamiang tidak benar.

Menurutnya, kelangkaan BBM terjadi akibat adanya kendala teknis serta kerusakan pada beberapa armada pengangkut BBM di Depot Pertamina Sumatera Utara. Ia menjelaskan bahwa secara sistem distribusi, wilayah Langsa dan Kuala Simpang memang berada dalam cakupan pelayanan Depot Pertamina Sumatera Utara sehingga gangguan pada armada distribusi berdampak terhadap keterlambatan pasokan ke SPBU di kedua daerah tersebut.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga melalui Sales Area Manager Retail Aceh mengambil langkah cepat dengan menginisiasi penyaluran pasokan tambahan dari Depot Pertamina Lhokseumawe sebagai solusi sementara hingga armada distribusi di Depot Pertamina Sumatera Utara kembali beroperasi normal.

Misbahul Bukhori menyampaikan bahwa proses pemulihan distribusi sedang dilakukan dan kondisi pasokan diperkirakan akan kembali normal dalam beberapa hari ke depan.

"Insya Allah kondisi ini akan segera pulih dalam beberapa hari ke depan. Saat ini pasokan sementara sudah dibantu dari Depot Pertamina Lhokseumawe, sembari menunggu armada distribusi di Depot Pertamina Sumatera Utara selesai di recovery sehingga penyaluran kembali normal," ujar Misbahul Bukhori.

Menanggapi penjelasan tersebut, Haji Uma meminta PT Pertamina Patra Niaga agar mempercepat proses normalisasi distribusi BBM sehingga masyarakat tidak terus mengalami kesulitan memperoleh bahan bakar.

"Saya meminta Pertamina segera melakukan percepatan distribusi agar masyarakat tidak terus terkatung-katung akibat kelangkaan BBM ini. BBM merupakan kebutuhan vital yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk menunjang mobilitas, aktivitas ekonomi, serta keberlangsungan usaha sehari-hari," kata Haji Uma.

Haji Uma juga mendesak agar Depot Pertamina Sumatera Utara meningkatkan komitmennya dalam menjalankan tanggung jawab distribusi sesuai wilayah kerjanya, sehingga pasokan BBM ke Langsa dan Aceh Tamiang dapat terjamin dan kejadian serupa tidak kembali terulang.

"Saya berharap koordinasi antar unit di lingkungan Pertamina terus diperkuat agar distribusi BBM berjalan lancar. Masyarakat tidak boleh menjadi pihak yang terus menanggung dampak akibat kendala teknis dalam proses distribusi. Saya juga meminta agar penyelesaian persoalan ini dipercepat sehingga kondisi kembali normal secepatnya," tutup Haji Uma. (*)

KJE FC Juara Liga Eksekutif JPFC, Tekuk PS BI Lewat Penalti

By On 20:50

Ketua KONI Aceh, Saiful Bahri (Pon Yahya), didampingi Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Husaini, dan Ketum JPFC, Muzakir Nurdin, Saat Menyerahkan Piala kepada Juara Pertama. Foto: M Yasir/ ReportNews.id
LHOKSEUMAWE, ReportNews.id – Koperasi Keuramat Jaya Energy (KJE) FC berhasil mengukir prestasi sebagai juara Liga Eksekutif JPFC VIII usai mengalahkan PS Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe dengan skor tipis 1-0 pada partai final, di Stadion Tunas Bangsa, Lhokseumawe, Minggu, 12 Juli 2026, sore.

Laga puncak berlangsung sengit dan penuh tensi sejak menit awal. Kedua tim tampil menyerang dengan saling melancarkan serangan berbahaya demi membuka keunggulan.

KJE FC yang diperkuat M. Sanusi, M. Dahlan alias Maklan, dan Uriansyah beberapa kali mengancam gawang PS BI. Namun, penampilan cermat penjaga gawang PS BI, Dedy, membuat peluang-peluang tersebut gagal berbuah gol.

Di sisi lain, PS Bank Indonesia juga tak tinggal diam. Al Banna, Khadafi, Maulizul Akbar, dan rekan-rekannya beberapa kali membangun serangan cepat untuk membongkar pertahanan KJE FC. Tetapi lini belakang dan penampilan apik kiper KJE FC, Raja Selamat, membuat skor tetap imbang tanpa gol hingga babak pertama berakhir.

Memasuki babak kedua, pertandingan semakin menarik. Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-43 ketika wasit Zulfikar menunjuk titik putih setelah kapten PS BI, Al Banna, melakukan handball di dalam kotak penalti.

Kesempatan itu dimanfaatkan dengan sempurna oleh Azril Nabawi. Tendangan penaltinya gagal dibendung kiper Dedy dan membawa KJE FC unggul 1-0.

Tertinggal satu gol, PS BI meningkatkan serangan demi mencari gol penyeimbang. Sejumlah peluang berhasil diciptakan, namun tidak mampu menembus rapatnya pertahanan KJE FC.

Hingga peluit panjang dibunyikan wasit, skor 1-0 tetap bertahan untuk kemenangan KJE FC. Dalam pertandingan tersebut, wasit mengeluarkan dua kartu kuning kepada pemain PS BI dan satu kartu kuning untuk pemain KJE FC.

Atas kemenangan itu, KJE FC berhak membawa pulang trofi juara Liga Eksekutif JPFC VIII, uang pembinaan sebesar Rp3 juta, serta satu ekor kambing. Sementara PS Bank Indonesia Lhokseumawe sebagai runner-up menerima trofi, uang pembinaan Rp2 juta, dan satu ekor kambing.

Meski gagal menjadi juara, PS BI tetap membawa pulang penghargaan individu melalui Maulizul Akbar, yang dinobatkan sebagai top skor Liga Eksekutif JPFC VIII dan berhak menerima hadiah sejumlah uang tunai.

Final Liga Eksekutif JPFC VIII berlangsung dalam suasana sportif dan disaksikan antusiasme ratusan suporter yang hadir Stadion Tunas Bangsa. Turnamen yang digagas Jurnalis Pase Football Club (JPFC) ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus mempererat kebersamaan antarlembaga, instansi pemerintah dan swasta.

Penutupan turnamen dilakukan oleh Ketua KONI Aceh, Saiful Bahri akrab disapa Pon Yahya, didampingi Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Husaini, serta dihadiri unsur Forkopimda dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Pon Yahya mengapresiasi penyelenggaraan Liga Eksekutif JPFC VIII.

Menurutnya, inisiatif para jurnalis yang tergabung dalam JPFC telah menghadirkan wadah positif untuk mempererat hubungan antarlembaga, instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan masyarakat di Lhokseumawe maupun Aceh Utara.

Pada kesempatan yang sama, panitia juga menyerahkan piagam penghargaan kepada sejumlah mitra pendukung yang telah berkontribusi menyukseskan turnamen.

Di antaranya PT Pupuk Iskandar Muda, PT Perta Arun Gas, PT Pema Global Energy, Bank Aceh Syariah Cabang Lhokseumawe, Universitas Malikussaleh, SPPG Banda Sakti, PLN Nusantara Power UP Arun, KONI Aceh Utara, PT Pembangunan Lhokseumawe (Perseroda), Karang Taruna Lhokseumawe.

Selanjutnya, Batalyon B Pelopor Polda Aceh, Dinas Kesehatan Lhokseumawe, Dinas Pemadam Kebakaran Lhokseumawe, Polres Lhokseumawe, DLHK Lhokseumawe, Bagian Umum Setdako Lhokseumawe, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, RSU Cut Meutia, Bank Indonesia Perwakilan Lhokseumawe, Koperasi Keuramat Jaya Energy (KJE), serta Pemerintah Kota Lhokseumawe. (*)

- Jurnalis Armia Jamil -

Kementerian PU Tegaskan Jembatan Enang-Enang Tidak Ditutup, Justru Diperkuat Demi Keselamatan Masyarakat

By On 23:18

Kementerian PU Tegaskan Jembatan Enang-Enang Tidak Ditutup, Justru Diperkuat Demi Keselamatan Masyarakat. Foto: Istimewa.
LOMBOK, ReportNews.id - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menegaskan bahwa Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, tidak ditutup, melainkan sedang dilakukan langkah-langkah penguatan struktur agar tetap aman digunakan secara terbatas.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, hasil pemeriksaan teknis menunjukkan pondasi jembatan dari arah Bireuen menuju Bener Meriah mengalami kemiringan akibat gerusan aliran sungai. Kondisi tersebut telah ditangani dengan penyangga sementara, dan saat ini Kementerian PU segera meningkatkan penanganan melalui perkuatan struktur bawah jembatan.

"Saya sudah berbicara dengan Kepala Balai dan Direktur Jembatan. Perkuatan di bawah jembatan akan kita buat lebih kuat lagi. Yang ada sekarang sifatnya masih sementara. Nanti PT PP akan mengerjakan perkuatan itu dengan penanganan yang lebih baik," kata Menteri Dody, Sabtu (11/7/2026).

Menteri Dody menegaskan, penguatan jembatan bukan berarti penutupan akses. Selama kondisi dinyatakan aman berdasarkan hasil pemantauan teknis, masyarakat masih dapat menggunakan jembatan dengan pembatasan jenis kendaraan demi menjaga keselamatan bersama.

Penguatan struktur bawah jembatan dilaksanakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh bersama Direktorat Pembangunan Jembatan dengan pelaksana konstruksi PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. Penanganan tersebut bertujuan meningkatkan stabilitas pondasi sehingga jembatan tetap aman digunakan selama masa transisi menuju penanganan permanen

Untuk memastikan keamanan, Menteri Dody juga menginstruksikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) bersama BPJN Aceh melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi jembatan, terutama saat terjadi hujan deras yang berpotensi meningkatkan gerusan di sekitar pondasi.

"Saya minta PPK melakukan kontrol rutin. Kalau sewaktu-waktu dinilai membahayakan masyarakat, penggunaan jembatan harus dihentikan sementara sampai kondisi kembali aman. Perbaikan akan terus dilakukan dari bawah sehingga masyarakat tetap bisa melintas dengan aman selama memungkinkan," ujar Menteri Dody.

Selama proses penguatan berlangsung, Jembatan Enang-Enang tetap difungsikan secara terbatas untuk kendaraan roda dua dan kendaraan ringan penumpang. Sementara itu, kendaraan angkutan barang dan kendaraan bertonase besar tetap dilarang melintas guna mengurangi beban pada struktur jembatan.

Sebagai solusi, Kementerian PU juga mempercepat peningkatan konektivitas kawasan melalui pelebaran Jalan Werlah beserta pembangunan dua jembatan baru pada jalur alternatif. Selain itu, pemerintah menyiapkan pembangunan jembatan shortcut di kawasan Enang - Enang yang nantinya mampu melayani kendaraan logistik hingga sekitar 30 ton sehingga mobilitas masyarakat dan distribusi barang menjadi lebih aman dan efisien. (*)

Dua Bendungan di Aceh Diresmikan, Gubernur Mualem Ucapkan Terima Kasih kepada Presiden Prabowo

By On 23:00

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Foto: Humas Setda Aceh
BANDA ACEH, ReportNews.id - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), sampaikan terimakasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto atas peresmian Bendungan Keureuto Aceh Utara, dan Bendungan Rukoh Pidie.

“Berfungsinya dua bendungan itu, sangat bermanfaat bagi Aceh,” kata Gubernur Mualem, Sabtu (11 Juli 2026).

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh bersamaan dengan tiga bendungan lainnya, pada Jumat (10 Juli 2026). Peresmian digelar secara langsung di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Empat lainnya diresmikan secara hybrid, yakni Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh di Aceh, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali.

Mewakkili Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir Syamaun, bersama unsur Forkopimda Aceh, mengikuti rangkaian peresmian tersebut secara virtual di lokasi Bendungan Rukoh, Pidie.

“Pemerintah Aceh menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum atas penyelesaian dua bendungan di Aceh,” kata Sekda Nasir yang didampingi Kepala Dinas Pengairan Aceh, Erwin Ferdiansyah.

Bendungan Keureuto dibangun sejak tahun 2015 dengan nilai kontrak Rp. 2,961 triliun, dan Bendungan Rukoh dibangun sejak 2018 dengan nilai kontrak Rp. 1,7 triliun. “Alhamdulillah sekarang sudah diresmikan Bapak Presiden Prabowo,” kata Nasir.

Sekda Nasir menyampaikan bahwa penyelesaian Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh sebagai Proyek Strategis Nasional menjadi pondasi penguatan ketahanan pangan, ketahanan air, ketahanan energi, dan pengendalian air di Aceh.

Secara detail, Sekda Nasir menjelaskan kemanfaatan dua bendungan tersebut. “Dua bendungan itu mampu melayani 26.889 hektar irigasi,” katanya. Ia menyebutkan Bendungan Keureuto yang berlokasi di Aceh Utara memiliki kapasitas menampung 215 juta meter kubik air.

“Manfaatnya, bendungan itu dapat melayani 14.695 hektar irigasi, penyediaan air baku 650 liter per detik, pengendalian banjir 627 hektar. Bahkan memiliki potensi pembangkit Listrik PLTA 6,34 MW dan potensi PLTS terapung 179 MW sebagai energi baru terbarukan,” katanya.

Adapun Bendungan Rukoh di Pidie, Nasir menyebutkan kapasitas tampungnya mencapai 128 juta meter kubik air. “Bendungan Rukoh melayani irigasi 12.194 hektar di Daerah Irigasi Baro Raya, menyediakan air baku 900 liter per detik untuk 20 kecamatan, mengendalikan banjir 51 hektar, dan potensi pengembangan PLTMH 1,22 MW dan PLTS 137 MW,” katanya.

Selain itu, kata Sekda Nasir, optimalisasi kedua bendungan itu akan mendukung program swasembada pangan nasional melalui indeks pertanaman. “Sebanyak 384.660 ton per tahun,” katanya. “Ketahanan air bagi masyarakat dan kawasan industri, pengembangan energi hijau, dan pengurangan risiko banjir,” katanya.(*)

- Jurnalis Armia Jamil -

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *