BERITA TERBARU

21 Tahun Damai Aceh, JASA Bireuen Sampaikan Pesan Penting ke Pemerintah Pusat

By On 00:22

Ketua Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Bireuen, Tgk. Mauliadi, S.H. Foto: For ReportNews.id
BIREUEN, ReportNews.id - Ketua Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Bireuen, Tgk. Mauliadi, S.H., mengingatkan Pemerintah Pusat agar terus menjaga perdamaian Aceh dengan menjalankan semangat saling menghormati, saling menjaga, dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

Pernyataan tersebut disampaikan Tgk. Mauliadi menjelang peringatan 21 tahun perdamaian Aceh pada 15 Agustus 2026, yang menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Aceh.

Menurut Mauliadi, perdamaian Aceh tidak boleh hanya dimaknai sebagai berakhirnya konflik bersenjata, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan, keadilan, kepastian hukum, serta terlaksananya kesepakatan yang telah dituangkan dalam MoU Helsinki dan berbagai aturan turunannya.

“Perdamaian harus saling menjaga dan saling menguntungkan. Jangan sampai ada pihak yang merasa dirugikan. Setelah 21 tahun perdamaian, kita berharap Aceh semakin maju, bukan justru masyarakat merasa masih berada dalam keterpurukan dan takut menyuarakan persoalan yang berkaitan dengan implementasi perdamaian,” ujar Mauliadi.

Ia menilai, masyarakat Aceh harus diberikan ruang untuk menyampaikan kritik dan aspirasi terkait berbagai persoalan perdamaian. Menurutnya, menyampaikan aspirasi bukan berarti mengancam perdamaian, melainkan bagian dari upaya untuk menjaga agar perdamaian tetap berjalan sesuai dengan semangat awal kesepakatan.

Mauliadi bahkan mengingatkan agar Pemerintah Pusat tidak membiarkan persoalan-persoalan yang belum terselesaikan berlarut-larut.

“Kalau ini terus menerus dibiarkan, kita khawatir bibit konflik Aceh akan lahir kembali di bumi serambi mekah ini. Jangan sampai tanah Aceh kembali berlumuran darah seperti masa konflik pada era 1980-an ketika Aceh berada dalam status Daerah Operasi Militer (DOM),” tegasnya.

Ia mengatakan, tidak ada masyarakat Aceh yang menginginkan konflik kembali terjadi. Karena itu, menurutnya, seluruh pihak harus memiliki komitmen untuk mempertahankan perdamaian yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar.

15 Agustus Momentum Evaluasi Perdamaian

Mauliadi menyebut 15 Agustus sebagai tanggal yang sangat bersejarah bagi Aceh. Peringatan 21 tahun perdamaian, kata dia, seharusnya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kesepakatan damai.

“Sudah 21 tahun kita berdamai. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh harus berani mengevaluasi apa saja yang sudah terlaksana dan apa saja yang belum, katanya.

Ia juga menyoroti sejumlah ketentuan dalam MoU Helsinki terkait kewenangan Aceh, termasuk pengaturan mengenai simbol-simbol Aceh serta hubungan kewenangan antara Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat.

Menurutnya, persoalan tersebut harus diselesaikan melalui dialog, komunikasi politik dan mekanisme hukum yang tersedia sehingga tidak terus menjadi sumber perdebatan di tengah masyarakat.

“Kalau ada persoalan yang belum selesai, mari kita duduk bersama. Jangan saling mencurigai. Jangan membangun ketakutan. Semua harus diselesaikan melalui jalur dialog dan hukum,” ujar Muliadi.

Perdamaian Harus Dirasakan Rakyat

Lebih lanjut, Ketua JASA Bireuen itu menegaskan bahwa ukuran keberhasilan perdamaian bukan hanya tidak adanya perang, tetapi sejauh mana masyarakat merasakan manfaat dari perdamaian tersebut.

Ia berharap perdamaian mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekonomi rakyat, memperkuat pendidikan, memberikan kepastian hukum dan memperluas kesejahteraan masyarakat Aceh secara menyeluruh.

“Rakyat Aceh membutuhkan kepastian bahwa perdamaian ini benar-benar membawa perubahan. Jangan sampai perdamaian hanya berhenti pada dokumen dan seremoni, sementara persoalan ekonomi, pengangguran, kemiskinan dan berbagai persoalan sosial masih terus dirasakan masyarakat,” katanya.

Mauliadi mengajak Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh dan seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama merawat perdamaian dengan menjalankan semua Butir-butir MoU Helsinki.

“Jangan hidupkan kembali konflik. Rawat perdamaian dengan keadilan. Jalankan kesepakatan dengan penuh tanggung jawab. Karena perdamaian Aceh bukan milik satu kelompok, tetapi milik seluruh rakyat Aceh dan Indonesia,” pungkasnya. (*)

Safari Subuh TU Aceh di Masjid At-Taqwa: Menjemput Fajar, Meneguhkan Zikir, Merawat Ukhuwah

By On 12:21

Safari Subuh TU Aceh di Masjid At-Taqwa: Menjemput Fajar, Meneguhkan Zikir, Merawat Ukhuwah. Foto: For ReportNews.id
ACEH UTARA, ReportNews.id - Ketika sebagian manusia masih larut dalam lelap, sebagian lainnya memilih bangun, mengambil wudhu, dan melangkahkan kaki menuju rumah Allah. Dalam sunyi menjelang fajar itulah, Safari Subuh dan Zikir Bersama Tadzkiratul Ummah (TU) Aceh kembali hadir, minggu ini di Masjid At-Taqwa, Gampong Meunasah Rambot, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (9/08/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana khusyuk dan penuh keakraban. Bukan sekadar pertemuan rutin, Safari Subuh menjadi ruang untuk meneguhkan kembali hubungan manusia dengan Allah, sekaligus mempererat ukhuwah di antara sesama umat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan shalat Subuh berjamaah yang diimami oleh Tgk. Jamaluddin Ismail, yang akrab disapa Walidi. Beliau merupakan Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon sekaligus Ketua Dewan Pembina Tadzkiratul Ummah Aceh.

Usai shalat, suasana masjid tetap dipenuhi ketenangan. Acara kemudian dipandu oleh Tgk. Irfan Hadi Lhoksukon, salah seorang pembawa acara ternama di Aceh Utara, yang mengantarkan setiap rangkaian kegiatan dengan tutur kata yang tertib dan penuh penghormatan.

Suasana semakin syahdu ketika jamaah bersama-sama mengikuti zikir dan doa yang dipimpin oleh Walidi, didampingi Tgk. Zulkarnaini Ismail dari Langkahan, Tgk. Saifullah, dan Tgk. Amir.

Lantunan zikir yang memenuhi ruang masjid seakan menjadi pengingat bahwa di tengah riuhnya kehidupan dunia, ada satu tempat manusia selalu kembali kepada Allah SWT.

Lima Kunci Kemenangan dan Kebahagiaan

Momen spiritual tersebut kemudian dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan oleh Tgk. Suryadi, S.Pd.

Dalam tausiyahnya, Tgk. Suryadi menyampaikan lima perkara yang menjadi jalan menuju kemenangan, kebahagiaan, dan kesuksesan, bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat.

Pertama,  senantiasa berzikir kepada Allah SWT dengan mengucapkan Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah. Zikir bukan hanya rangkaian lafaz di lisan, tetapi pengingat agar hati tidak pernah jauh dari Allah.

Kedua, ketika ditimpa musibah, seorang mukmin hendaknya mengucapkan Inna lillahi wainna ilaihi raji'un. Sebuah pengakuan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan kepada-Nya pula seluruh kehidupan akan kembali.

Ketiga, ketika memperoleh nikmat, hendaknya selalu mengucapkan Alhamdulillah. Sebab nikmat yang disyukuri akan menghadirkan ketenangan, sementara rasa syukur menjadikan hati mampu melihat bahwa setiap kebaikan adalah karunia dari Allah.

Keempat, ketika hendak memulai suatu perkara, biasakan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama Allah, setiap ikhtiar diarahkan agar memiliki keberkahan dan berada dalam jalan yang diridai-Nya.

Kelima, ketika lupa atau melakukan kekhilafan, segera mengucapkan Astaghfirullahal'azim. Karena manusia tidak pernah luput dari salah dan lupa, sementara pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi mereka yang kembali dan memohon ampun.

Lima perkara tersebut, menurut Tgk. Suryadi, sejatinya bukan sekadar ucapan yang keluar dari lisan. Ia harus menjadi jalan hidup: zikir ketika lapang, sabar ketika diuji, syukur ketika diberi, doa ketika memulai, dan istighfar ketika tersandung oleh kesalahan.

Menutup Subuh dengan Pesan yang Menyentuh

Rangkaian Safari Subuh kemudian ditutup dengan pesan dan kesan dari Sekretaris Jenderal Tadzkiratul Ummah Aceh, Tgk. H. Samsul Bahri, SHI yang lebih dikenal Abati Samsul.

Dalam penyampaiannya, ia memberikan pesan yang menyentuh hati jamaah tentang pentingnya menjaga semangat kebersamaan, memperkuat ukhuwah, serta menjadikan Safari Subuh bukan sekadar agenda organisasi, tetapi sebagai ikhtiar bersama untuk menghidupkan masjid dan menghidupkan hati.

Safari Subuh, pada akhirnya, bukan hanya tentang siapa yang hadir dan siapa yang berbicara. Ia adalah tentang langkah-langkah kecil yang menuju kebaikan, tentang hati yang dipertemukan dalam doa, dan tentang fajar yang menjadi saksi bahwa masih ada hamba-hamba Allah yang memilih bangun untuk mengingat-Nya.

Di Masjid At-Taqwa pagi itu, Subuh bukan sekadar pergantian malam menuju siang. Ia menjadi simbol tentang harapan.

Bahwa selama masjid masih didatangi, zikir masih dilantunkan, doa masih dipanjatkan, dan ukhuwah masih dirawat, maka selalu ada cahaya yang dapat dinyalakan di tengah kehidupan.

Sebab terkadang, perubahan besar tidak dimulai dari gemuruh suara, tetapi dari langkah sunyi menuju masjid ketika fajar baru saja menyingsing. Dan dari sanalah, ikhtiar untuk menjadi umat yang lebih baik kembali dimulai. (*)

IJTI Genap Berusia 28 Tahun, Komitmen Jaga Marwah Jurnalisme Televisi dan Demokrasi

By On 12:04

IJTI Genap Berusia 28 Tahun, Komitmen Jaga Marwah Jurnalisme Televisi dan Demokrasi
IJTI Genap Berusia 28 Tahun, Komitmen Jaga Marwah Jurnalisme Televisi dan Demokrasi. Foto: Istimewa
JAKARTA, ReportNews.id – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) hari ini, Minggu 9 Agustus 2026, genap merayakan ulang tahun yang ke-28. Mengusung tema “Menjaga Marwah Jurnalis Televisi di Tengah Badai Disrupsi”, momentum ini menjadi refleksi sekaligus seruan bagi seluruh insan pers televisi untuk tetap memegang teguh etika, profesionalisme, dan integritas di tengah perubahan lanskap media yang sangat pesat.

Perkembangan teknologi digital serta derasnya arus informasi di media sosial membawa tantangan besar bagi industri penyiaran. “Kecepatan sering kali mengangkangi akurasi, dan sensasionalisme berisiko menggeser kedalaman berita. Dalam situasi ini, IJTI menegaskan bahwa marwah jurnalisme penyiaran tidak boleh goyah. Jurnalis televisi harus tetap menjadi garda terdepan dalam menyajikan informasi yang terverifikasi, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik,” ujar Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, dalam keterangan tertulisnya.

Selain menghadapi tantangan teknologi, IJTI juga menyoroti pentingnya menjaga independensi profesi jurnalis sebagai pilar utama penopang demokrasi. “Di tengah keterbukaan informasi serta dinamika politik dan ekonomi, jurnalisme yang bebas dari intervensi serta kepentingan sepihak adalah syarat mutlak bagi tumbuhnya demokrasi yang sehat,” tambah Herik.

Dalam peringatan HUT ke-28 ini, IJTI menyampaikan empat seruan penting:

1. Seluruh jurnalis televisi menjadikan Kode Etik Jurnalistik (KEK) serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) sebagai benteng utama dalam setiap pekerjaan jurnalistik.

2. Menolak segala bentuk intervensi, tekanan, maupun upaya pembungkaman dari pihak manapun yang berpotensi mencederai independensi dan kemerdekaan pers.

3. Mendorong jurnalis serta perusahaan media televisi memanfaatkan teknologi digital secara bijak guna memperluas jangkauan informasi tanpa mengorbankan kaidah dan kedaulatan jurnalistik.

4. Mengukuhkan komitmen IJTI untuk terus menjadi alat kontrol sosial yang kritis, objektif, dan berpihak pada kepentingan publik demi memperkuat sendi-sendi demokrasi di Indonesia.

Melalui momen ini, IJTI mengajak seluruh jurnalis televisi, pengelola media, pemangku kepentingan, pemerintah, hingga masyarakat luas, untuk bersama-sama merawat kemerdekaan pers yang bertanggung jawab.

 “Hanya dengan jurnalisme yang independen dan bermartabat, publik dapat memperoleh hak atas informasi yang benar, sekaligus menjaga jalan demokrasi tetap berada pada koridornya,” tutup pernyataan tersebut. (Red)

Haji Uma Desak Proses Hukum Pelaku Pencabulan Anak di Aceh Tamiang Sesuai UU Nomor 12 Tahun 2022

By On 11:35

Haji Uma Minta Pelaku Pencabulan Anak di Aceh Tamiang Diproses Tegas Sesuai UU TPKS
Haji Uma Minta Pelaku Pencabulan Anak di Aceh Tamiang Diproses Tegas Sesuai UU TPKS. Foto: For ReportNew.id
JAKARTA, ReportNews.id - Anggota Komite I DPD RI asal Aceh, H. Sudirman Haji Uma, S.Sos, M.Sos, meminta agar Polres Aceh Tamiang segera melakukan proses hukum terhadap kasus Tindak Pidana kekerasan seksual (TPKS) dengan korban anak di Seruway Kabupaten Aceh Tamiang.

Hal itu disampaikan Haji Uma menyikapi laporan yang diterimanya dari masyarakat pada Sabtu (8/8/2026). Korban dari kasus TPKS ini adalah anak piatu berinisial A (13) dari keluarga miskin asal Desa Gelung Kecamatan Seruway.

"Kita telah menerima laporan kasus pencabulan terhadap anak yang terjadi di Seruway, Aceh Tamiang. Kita sangat miris dan memberi atensi atas kasus ini, karena korban adalah anak piatu dari keluarga sangat miskin", ujar Haji Uma.

Haji Uma menambahkan, jika kasus ini telah melalui proses perdamaian antara pihak pelaku dengan pihak keluarga korban. Namun menurutnya, kasus ini tetap harus melalui proses peradilan sebagaimana ketentuan pasal 23 UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS).

Ketentuan perundangan dimaksud menegaskan bahwa Tindak Pidana Kekerasan Seksual tidak dapat dilakukan penyelesaian diluar proses peradilan, kecuali terhadap pelaku anak sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.

Lebih lanjut Haji Uma menegaskan pada pasal 76D UU 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, jo pasal 6 Ayat (1) jo pasal 7 UU Nomor 12 tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual menegaskan persetubuhan terhadap anak atau pelecehan seksual secara fisik terhadap anak, bukanlah delik aduan, tetapi delik biasa.

"Mengacu pada UU Perlindungan Anak dan UU TPKS, kita meminta agar Polres Aceh Tamiang segera memproses informasi terkait kasus ini, Tanpa harus menunggu adanya laporan dari korban atau pelapor", tegasnya.

Haji Uma juga mempertanyakan informasi yang diterimanya bahwa pihak Polsek Seruway dan Polres Aceh Tamiang meminta adanya surat pembatalan perdamaian antara pihak korban dan pelaku yang ditandatangani datok penghulu (kepala desa) agar kasus ini bisa diproses.

Berdasarkan informasi yang diterima Haji Uma, kasus ini sebelumnya telah diselesaikan melalui perdamaian antara wali korban dengan pelaku melalui surat perdamaian yang ditandatangani pada tanggal 31 Juli 2026. Namun keluarga dari pihak ibu korban tidak menerima dan kemudian membuat laporan polisi, namun diminta surat pembatalan perdamaian yang hingga kini tidak ditandatangani oleh datuk penghulu.

"Kita mempertanyakan penolakan laporan dari keluarga korban oleh polisi dan mengharuskan adanya surat pembatalan perdamaian yang ditandatangani oleh datuk penghulu. Karena itu, kita atensi Kapolres Aceh Tamiang untuk kasus ini", kata Haji Uma.

Sebagai informasi, berdasarkan keterangan Haji Uma dari laporan masyarakat. Kasus ini terjadi pertama kali saat korban duduk di kelas V SD dan berulang 2 kali saat korban kelas VI SD.

Dari pengakuan korban, tindak pencabulan pertama kali terjadi saat korban baru pulang sekolah dan sendiri dirumah lalu didatangi terduga pelaku dan meminta korban membuka pakaiannya. Korban yang sangat polos bahkan tidak mengerti tujuan pelaku sempat menolak namun berada dibawah paksaan.

Letak rumah korban jauh dari rumah warga lain, rumah terdekat adalah rumah pelaku dan akses jalan satu-satunya dari rumah korban melewati rumah pelaku. Hingga tindak pencabulan oleh terduga pelaku kemudian berulang saat korban mandi di sungai dan terakhir terjadi saat korban melewati rumah pelaku.

Kasus ini terbongkar saat korban menceritakan apa yang dialaminya dan selanjutnya menyebar, bahkan korban sempat di bully disekolah. Lalu kemudian diketahui oleh gurunya yang kemudian memberitahukan kepada ayah korban. Masalah tersebut kemudian sampai ke Datuk Penghulu Kampung Gelung hingga kemudian terjadinya perdamaian.

Masyarakat setempat yang merasa perdamaian itu tidak dapat diterima lalu melaporkan kepada keluarga dari pihak almarhumah ibu korban dan lalu melapor ke polisi. Namun laporan ditolak dan diminta agar ada surat pembatalan damai dari datuk penghulu. Masyarakat yang geram bahkan mengancam mengusir ayah korban dari desa jika menerima perdamaian.

Kondisi korban dan keluarganya sangat miris, hanya tinggal bersama ayah dan adiknya karena ibunya telah lama meninggal. Kondisi tempat tinggal mereka sangat kurang layak dan ayah korban bekerja serabutan. Korban dan adiknya saban hari ditinggal dengan adiknya dirumah karena keluar pagi dan pulang sorenya untuk bekerja.

Haji Uma sendiri berkomitmen akan mengawal kasus ini dan meminta atensi dari semua pihak di Aceh Tamiang agar kasus ini. Apalagi ada informasi masyarakat, terduga pelaku adalah keluarga dari datuk penghulu setempat serta terkesan di proteksi relasi tertentu.

"Kita akan mengawal kasus ini agar diselesaikan sesuai prosedur hukum dan ketentuan aturan perundangan yang berlaku agar terwujudnya keadilan bagi korban. Karena itu, kita meminta atensi semua pihak, terutama Kapolres Aceh Tamiang serta pemerintah daerah setempat", tutup Haji Uma. (*)

Pertamina Patra Niaga Sumbagut Sabet 7 Penghargaan ISRA 2026, Bukti Komitmen Nyata Bagi Masyarakat

By On 21:25

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Sabet 7 Penghargaan ISRA 2026
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Sabet 7 Penghargaan ISRA 2026. Dok. PPN
MEDAN, ReportNews.id - Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut senantiasa tegaskan komitmennya dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bagi masyarakat. Buah dari konsistensi ini berhasil mendapatkan pengakuan di tingkat nasional melalui ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 yang digelar di Swiss-Belhotel, Surakarta (6/8).
Komitmen Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut dalam menjalankan program TJSL ini berhasil meraih penghargaan :

1 Platinum

Kategori _Economic Empowerment_

Program Gampong Berdikari dari Terminal BBM Lhokseumawe


1 Silver

Kategori _CSR Video Documentation_

Program GEPARI (Gerakan Pakan Mandiri) & Budidaya Ikan dari Terminal BBM Meulaboh


5 Bronze

1. Kategori _Gender Equality & Social Inclusion_

Program KABAYA (Kampung Pesisir Berdaya) dari Terminal BBM Medan

2. Kategori _Economic Empowerment_

- Program SEJAMBA (Siak Jaga Alam, Masyarakat Berdaya) dari Terminal BBN Sei Siak

- Program Siantar Haroan Bolon dari Terminal BBM Pematang Siantar

- Program ONDE MANDE (Optimalisasi Hutan Produktif Air Terjun Lubuk Hitam Berbasis Water Resources Management & Development) dari Terminal BBM Teluk Kabung

- Program Pangkalan Gesit dari Terminal BBM Dumai

ISRA 2026 merupakan ajang apresiasi dan forum kolaborasi nasional yang diselenggarakan oleh Prospectus untuk memperkuat praktik keberlanjutan serta implementasi _Environmental, Social, and Governance_ (ESG) di Indonesia.

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut sebagaimana disampaikan Area Manager Communication, Relations & CSR, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan penghargaan tersebut menjadi bukti konsistensi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menghadirkan program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus lingkungan. Penghargaan ini merupakan hasil dari kerja keras kolektif yang berfokus pada dampak jangka panjang, bukan sekadar menggugurkan kewajiban perusahaan.

"Penghargaan ini meneguhkan posisi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut yang konsisten mengembangkan pemberdayaan masyarakat di wilayah operasional. Melalui semua program yang dijalankan ini, kami berupaya menghadirkan inovasi sosial yang tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkelanjutan," ujar Fahrougi.

Penghargaan Platinum ISRA 2026 diharapkan semakin memotivasi Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut untuk terus menghadirkan program-program TJSL yang inovatif, berkelanjutan, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat, lingkungan, dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (*)



Bupati Aceh Utara Berhasil Menyelesaikan Sengketa PTPN dan Masyarakat Cot Girek, Warga Beri Apresiasi

By On 11:18

Bupati Aceh Utara Berhasil Mediasi Konflik PTPN dengan Masyarakat Cot Girek, Warga Sampaikan Apresiasi
Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil,  Berhasil Mediasi Konflik PTPN dengan Masyarakat Cot Girek. Foto: Istimewa 
ACEH UTARA, ReportNews.id – Masyarakat Kecamatan Cot Girek menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil, SE., MM. (Ayah Wa), yang berhasil memediasi konflik antara warga dan pihak PTPN. Pertemuan tersebut berlangsung di Aula Setdakab, Jumat (7/8/2026).

Meskipun digelar hingga malam, forum musyawarah ini dihadiri oleh berbagai unsur terkait guna mengurai benang kusut persoalan yang telah lama membayangi masyarakat Cot Girek. Proses dialog berlangsung terbuka, transparan, serta mengedepankan asas kekeluargaan dan kepentingan bersama.

Usai pertemuan, sejumlah perwakilan warga mengekspresikan rasa lega dan terima kasih atas komitmen Bupati yang bersedia mengawal langsung proses mediasi tersebut.

"Terima kasih kepada Ayah Wa, Bupati Aceh Utara, yang telah memfasilitasi penyelesaian konflik antara PTPN dan masyarakat Cot Girek. Beliau rela bertahan hingga malam hari demi mendengarkan aspirasi kami dan mencari jalan keluar terbaik," ungkap salah seorang warga.

Sementara itu, Bupati Aceh Utara menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten senantiasa berkomitmen menyelesaikan setiap dinamika sosial melalui pendekatan dialogis. Menurutnya, jalan musyawarah adalah langkah krusial untuk menjaga kondusivitas serta stabilitas daerah.

Melalui kesepakatan ini, warga berharap hasil mediasi dapat memberikan keadilan yang nyata bagi semua pihak, sekaligus mempererat sinergi harmonis antara masyarakat, PTPN, dan Pemerintah Daerah. Forum penutup Jumat malam itu berakhir hangat dengan komitmen bersama untuk mengawal tindak lanjut kesepakatan sesuai regulasi yang berlaku.

Kegiatan penyelesaian konflik agraria PTPN I Regional IV tersebut dihadiri Kakanwil BPN Aceh, Dr. Ir. Arinaldi, S.SiT., S.H., M.M, Gubernur Aceh diwakili Asisten I, Drs. Syakir, M.Si, Kapolda Aceh diwakili Wakil Direktur Kriminal Umum, Pangdam IM diwakili Kapok Sahli. Kemudian Kepala Biro Hukum Pemerintah Aceh, Amrizal J. Prang, Dandim 0103/AUT, Letkol Inf Faisal, S.Sos., M.Si, jajaran Polres Aceh Utara, unsur Kejaksaan dan pihak-pihak terkait lainnya termasuk masyarakat Cot Girek, Pirak dan Paya Bakong.[]

Ratusan Senjata Ditemukan di Sekolah Jaksel, Diduga Dipicu Konflik Internal

By On 21:44

Temuan ratusan senjata di sekolah di Jaksel
Temuan Ratusan Renjata di Sekolah di Jaksel. Foto: Dok. Istimewa
JAKARTA, ReportNews.id - Pihak sekolah menjawab informasi terkait urusan konflik kepengurusan yayasan di balik temuan ratusan senjata di ruangan mantan ketua yayasan, IWD, di sekolah Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel). Pihak sekolah menyebut persoalan itu menjadi pintu masuk penemuan senjata.

"Iya, karena tanpa ada sengketa itu kami nggak bisa masuk. Justru karena sengketa itu, kami kemudian memberhentikan dia ketua," kata Kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto kepada wartawan di jakarta, Jumat (7/8/2026).

Setelah IWD diberhentikan, kata Hermawanto, pihaknya mendapatkan akses untuk membuka ruangannya. Saat dibuka, ditemukan ratusan senjata berbagai jenis. Pihaknya juga menemukan narkotika hingga 30 compact disk (CD) porno.

"Lalu kemudian kami punya akses untuk masuk ke dalam ruangan, ruangan sekolah kan? Akhirnya kami coba buka-buka, nggak tahunya ketika kami buka ruangan itu menjadi....kita temukan barang terlarang. Seandainya tidak ada sengketa, mungkin senjata itu masih ada di sini," jelasnya.

Hermawanto juga merespons pihak IWD terkait ratusan senjata itu digunakan untuk ekstrakurikuler. Hermawanto menyebut tidak ada ekskul menembak di sekolah itu.

"Kami informasikan berdasarkan informasi dari para guru-guru yang sudah lama di sini, bahwa di sekolah ini tidak pernah ada ekstrakurikuler menembak," tuturnya.

Tanggapan Pihak Eks Ketua Yayasan

Sebelumnya, Alhadid Endar Putra selaku kuasa IWD sekaligus Dirut PT Lokta Karya Perbakin menyampaikan bahwa 995 pucuk senjata airsoft gun itu adalah milik perusahaan tersebut. Senjata itu disimpan di gudang sekolah berkaitan dengan rencana kerja sama ekstrakurikuler (ekskul) menembak antara PT Lokta Karya Perbakin dengan pengurus yayasan sekolah sebelumnya di tahun 2020.

Ia mengklaim senjata itu resmi dan berizin.Alhadid juga mengaku telah memperlihatkan surat izin tersebut ke pihak kepolisian.

"Mereka (pihak kepolisian) juga bertanya dan kami kasih lihat. Ini akan kita gelar juga di Polres izin-izin tersebut," kata Alhadid.

Menurut Alhadid, pihak yayasan yang saat ini sudah tahu soal adanya senjata yang disimpan di gudang itu. Ia merasa heran pihak yayasan sekolah seakan-akan tidak mengetahui asal-usul senjata tersebut.

"Saya juga tidak tahu tiba-tiba meledak, mereka seakan-akan baru tahu. Mereka tahu juga sudah ada izinnya," ungkapnya.

Alhadid menduga persoalan ini mencuat karena ada konflik di internal kepengurusan yayasan sekolah. Konflik itu terjadi sejak pembina yayasan yang sebelumnya diberhentikan secara sepihak.

"Ternyata saya ulik ada konflik di yayasan itu. Ini mengenai pembina Bu N sudah menjadi pembina sudah menduduki fisik dari April 2026. Jadi 5 bulan itu menduduki di sana, sebelum dia menduduki itu dia memberhentikan pembina lain," jelasnya.

Mengenai konflik yayasan ini, Alhadid menyampaikan bahwa pihak yayasan sebelumnya--yang telah dipecat--itu tengah mengajukan gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Gugatannya mengenai pemberhentian ketua yayasan secara sepihak dan penggunaan rekening pribadi untuk dana yayasan.

"Sudah ada gugatannya di PN Jakpus perihal pemberhentian pembina dan rekening pribadi," pungkasnya.

Polisi Selidiki

Polres Metro Jakarta Selatan menyelidiki terkait temuan senjata di salah satu ruangan di sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel). Polisi menemukan air gun hingga senjata api.

"Bahwa benar Polres Metro Jakarta Selatan telah menerima Laporan dari masyarakat terkait temuan senjata (terdiri dari air gun dan senjata api) yang tersimpan disalah satu ruangan di yayasan sekolah yang berlokasi di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan," kata Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan, Joko Adiwibowo, kepada wartawan, Kamis (6/8).

Penemuan senjata itu sudah dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Selatan. Joko mengatakan, sebelum laporan dibuat, polisi juga sudah menerbitkan laporan model A terkait temuan itu.

"Bahwa sebelum adanya laporan polisi dimaksud, Polres Jakarta Selatan telah membuat laporan polisi model A yang dibuat sesaat setelah ditemukannya kejadian dimaksud," ujarnya. (*)

Sumber: Detik.com

Pemerintah Aceh Kelola Rp9,7 Miliar dari Dana Bencana Kementan Rp2,5 Triliun

By On 21:11

Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menggelar konferensi pers di ruang kerjanya
Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menggelar konferensi pers di ruang kerjanya, Jumat (7/8/2026). Foto: humas Setda Aceh
BANDA ACEH, ReportNews.id -Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, menggelar konferensi pers di ruang kerjanya, Jumat (7/8), didampingi Juru Bicara Pemerintah Aceh, T. Kamaruzzaman dan Nurlis Effendi. Konferensi pers tersebut digelar untuk memberikan penjelasan terkait pertemuan Gubernur Aceh Muzakir Manaf dengan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman di Jakarta mengenai dukungan anggaran Kementerian Pertanian RI bagi penanganan dampak bencana hidrometeorologi di Aceh.

‎M. Nasir menjelaskan, total dukungan anggaran dari Kementerian Pertanian mencapai Rp2,5 triliun yang diperuntukkan bagi pemulihan sektor pertanian, khususnya sawah dan perkebunan yang terdampak bencana hidrometeorologi.

‎‎Ia merinci, dari total anggaran tersebut, Rp515 miliar berada pada Satuan Kerja (Satker) Daerah yang terdiri atas alokasi untuk Pemerintah Provinsi Aceh sebesar Rp9,7 miliar dan pemerintah kabupaten/kota sebesar Rp505,3 miliar. Hingga 6 Agustus 2026, realisasi anggaran tersebut telah mencapai 50,3 persen.

‎Sekda menegaskan, dana pada Satker Daerah tidak ditempatkan pada kas Pemerintah Aceh maupun pemerintah kabupaten/kota, melainkan berada di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Banda Aceh di bawah Kementerian Keuangan.

‎Sementara itu, sekitar Rp2 triliun lainnya berada pada Satker Pusat dan balai di bawah Kementerian Pertanian. Anggaran tersebut dialokasikan untuk pengadaan alat dan mesin pertanian, pembibitan tanaman pertanian dan perkebunan, termasuk benih padi, jagung, serta bibit kopi, kelapa, kakao, dan karet.

‎Menurut M. Nasir, bantuan senilai Rp2 triliun tersebut disalurkan kepada Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota dalam bentuk program dan barang yang langsung diterima oleh para penerima manfaat dari Kementerian Pertanian. Saat ini, pelaksanaannya masih berada pada tahapan pengajuan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL), verifikasi, dan proses pembibitan, sedangkan sebagian alat dan mesin pertanian telah diterima langsung oleh pemerintah kabupaten/kota.

‎Berdasarkan data yang dipaparkan, bencana hidrometeorologi telah menyebabkan 57.485 hektare sawah terdampak, terdiri atas 27.437 hektare rusak ringan, 13.651 hektare rusak sedang, 16.276 hektare rusak berat, serta 120 hektare sawah hilang.

‎Saat ini, upaya optimalisasi lahan dan rehabilitasi untuk lahan rusak ringan hingga rusak sedang telah berjalan dengan cakupan 40.852 hektare.

‎Di sektor perkebunan, luas lahan yang terdampak mencapai 60.438 hektare. Dari jumlah tersebut, proses pemulihan sedang berlangsung pada 40.418 hektare, yang meliputi tahapan pengajuan CPCL, verifikasi, dan pembibitan. Program tersebut dilaksanakan melalui Satker Pusat dan Balai Kementerian Pertanian di Medan.

‎Melalui konferensi pers tersebut, Pemerintah Aceh menegaskan bahwa seluruh proses penyaluran bantuan dan pemulihan sektor pertanian terus berjalan sesuai mekanisme yang ditetapkan Kementerian Pertanian, sehingga masyarakat memperoleh informasi yang utuh mengenai skema dan pelaksanaan anggaran penanganan bencana hidrometeorologi di Aceh. (*)

-Jurnalis Armia Jamil -

Mahasiswa Ilmu Politik Unimal Ikuti KKN Internasional di Malaysia

By On 20:18

Juliyanti, mengikuti Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional yang diselenggarakan di Kampung Yan Keudah, Kedah, Malaysia, pada 2–9 Agustus 2026
Juliyanti, Mahasiswa Unimal  mengikuti Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional yang diselenggarakan di Kampung Yan Keudah, Kedah, Malaysia, pada 2–9 Agustus 2026. Foto: For ReportNews.id
KEDAH MALAYSIA, ReportNews.id - Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh, Juliyanti, mengikuti Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional yang diselenggarakan di Kampung Yan Keudah, Kedah, Malaysia, pada 2–9 Agustus 2026.

Keikutsertaan Juliyanti menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman akademik sekaligus mengimplementasikan ilmu melalui pengabdian kepada masyarakat. Selama program berlangsung, ia bersama peserta dari berbagai perguruan tinggi akan terlibat dalam sejumlah kegiatan pemberdayaan masyarakat, pertukaran budaya, serta penguatan jejaring akademik lintas negara.

Juliyanti mengatakan bahwa KKN Internasional merupakan pengalaman berharga yang membuka ruang untuk memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan beradaptasi, dan memahami kehidupan masyarakat dengan latar budaya yang berbeda.

“KKN Internasional bukan hanya tentang pengabdian, tetapi juga proses belajar untuk memahami masyarakat dengan latar budaya yang berbeda. Saya berharap pengalaman ini dapat memberikan manfaat, baik bagi masyarakat maupun menjadi bekal untuk pengembangan diri ke depan,” ujarnya.

Keikutsertaan Juliyanti mencerminkan komitmen mahasiswa Universitas Malikussaleh untuk terus berkontribusi dalam ruang akademik dan pengabdian yang berdampak. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya membawa nama baik kampus di tingkat internasional, tetapi juga memperkuat kapasitas diri sebagai generasi yang mampu berkolaborasi dan beradaptasi di tengah dinamika global. (Red)

Wapres dan Wagub Aceh Cek Kondisi Jembatan Lumut serta Jembatan Kendawi

By On 22:31

Didampingi Wagub 𝗔𝗰𝗲𝗵, Wapres 𝗧𝗶𝗻𝗷𝗮𝘂 𝗝𝗲𝗺𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗟𝘂𝗺𝘂𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗝𝗲𝗺𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗻𝗱𝗮𝘄𝗶
Didampingi Wagub 𝗔𝗰𝗲𝗵, Wapres 𝗧𝗶𝗻𝗷𝗮𝘂 𝗝𝗲𝗺𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗟𝘂𝗺𝘂𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗝𝗲𝗺𝗯𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗻𝗱𝗮𝘄𝗶. Foto: Humas Setda Aceh
ACEH TENGAH, ReportNews.id - Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah (Dek Fadh), mendampingi Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, meninjau Jembatan Lumut di Desa Lumut, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Kamis (6/8/2026).

Jembatan Lumut merupakan bagian dari ruas jalan nasional yang menghubungkan Takengon–Isé-Isé hingga Blang Kejeren. Keberadaannya memiliki peran strategis dalam mendukung konektivitas masyarakat serta distribusi barang dan jasa di wilayah tengah Aceh.

Setibanya di Kabupaten Aceh Tengah menggunakan helikopter yang mendarat di lapangan sepak bola di sekitar lokasi jembatan, Wakil Presiden bersama rombongan langsung menuju Jembatan Lumut. Dalam peninjauan tersebut, Wakil Presiden didampingi Wakil Gubernur Aceh bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh Tengah.

Turut hadir Bupati Aceh Tengah, Wakil Bupati Aceh Tengah, Ketua DPRK Aceh Tengah, Kapolres Aceh Tengah, Dandim Aceh Tengah, serta sejumlah pejabat terkait lainnya.

Di lokasi, Wakil Presiden dan Wakil Gubernur Aceh menerima pemaparan dari pihak Balai Pelaksana Jalan Nasional mengenai kondisi Jembatan Lumut, termasuk langkah penanganan yang telah dilakukan dan rencana tindak lanjut guna memastikan kelancaran akses transportasi masyarakat.

Usai menerima penjelasan, Wakil Presiden bersama Wakil Gubernur Aceh meninjau langsung kondisi jembatan sekaligus menyapa masyarakat yang telah menunggu sejak pagi. Kehadiran rombongan disambut antusias oleh warga yang berharap penanganan infrastruktur tersebut dapat segera dituntaskan.

Usai meninjau Jembatan Lumut, Wakil Presiden bersama Wakil Gubernur Aceh dan rombongan melanjutkan kunjungan kerja ke Kabupaten Gayo Lues. Rombongan bertolak menggunakan helikopter dan mendarat di Stadion Seribu Bukit sebelum menuju Jembatan Kendawi di Desa Dabung Gelang.

Di lokasi Jembatan Kendawi, Wakil Presiden dan Wakil Gubernur Aceh kembali menerima pemaparan dari pihak Balai Pelaksana Jalan Nasional mengenai kondisi jembatan, progres penanganan, serta rencana tindak lanjut yang disiapkan untuk menjaga kelancaran akses transportasi masyarakat.

Wakil Presiden bersama Wakil Gubernur Aceh kemudian meninjau langsung kondisi Jembatan Kendawi dan menyapa masyarakat yang menyambut kedatangan rombongan. Kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap percepatan penanganan infrastruktur strategis yang menjadi urat nadi mobilitas dan aktivitas perekonomian masyarakat.

Peninjauan di Aceh Tengah dan Gayo Lues diharapkan semakin memperkuat sinergi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh dalam mempercepat pembangunan serta penanganan infrastruktur strategis, sehingga konektivitas antarwilayah tetap terjaga dan mampu mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. (*)

- Jurnalis Armia Jamil -

Panglima Jhony Percayakan Aziz Muhajir dan Chairul Akbari Duduki Posisi Strategis DPP JASA

By On 22:17

Panglima Jhony Tunjuk Aziz Muhajir dan Chairul Akbari Isi Posisi Strategis DPP JASA
 Panglima Jhony Tunjuk Aziz Muhajir dan Chairul Akbari Isi Posisi Strategis DPP JASA. Foto: Istimewa
​BANDA ACEH, ReportNews.id - Ketua Dewan Pembina Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA), M. Jhony, S.H., secara resmi menunjuk Aziz Muhajir sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal dan Chairul Akbari sebagai Bendahara Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) JASA.

​Keputusan strategis tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Dewan Pembina Jaringan Aneuk Syuhada Aceh Nomor: 01/SK/DP-JASA/VIII/2026 yang ditetapkan pada 3 Agustus 2026 di Aceh Utara.

​Juru Bicara JASA, Datul Abrar, menyampaikan bahwa penunjukan ini dilakukan untuk memperkuat struktur organisasi, menyegarkan roda kepengurusan, serta memaksimalkan pencapaian program kerja DPP JASA ke depan.

​"Melalui mandat baru ini, jajaran pengurus diharapkan dapat semakin solid dalam mengawal aspirasi dan memperjuangkan hak-hak anak syuhada di seluruh pelosok Aceh," ujar Abrar.

​Abrar juga menambahkan bahwa Panglima Jhony secara tegas mengarahkan pejabat yang baru ditunjuk untuk segera melakukan koordinasi dan konsolidasi internal demi menjalankan agenda-agenda prioritas organisasi.

​"Dengan adanya penyegaran ini, DPP JASA berkomitmen untuk terus bergerak aktif sebagai wadah pemersatu dan pembawa perubahan positif bagi masyarakat Aceh," pungkasnya (*)

Kasus Curanmor di Kawasan Goa Jepang Terungkap, Dua Pelaku Ditangkap

By On 22:08

Polres Lhokseumawe Amankan Dua Terduga Pelaku Curanmor di Kawasan Wisata Goa Jepang, Satu Pelaku Masih Diburu
Polres Lhokseumawe Amankan Dua Terduga Pelaku Curanmor di Kawasan Wisata Goa Jepang, Satu Pelaku Masih Diburu. Foto: Istimewa
LHOKSEUMAWE, ReportNews.id - Personel gabungan Unit Resmob Polres Lhokseumawe bersama Polsek Muara Satu mengamankan dua terduga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang terjadi di kawasan wisata Goa Jepang, Desa Blang Panyang, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, rabu (5/8/2026) malam.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Dr. Ahzan, melalui Kapolsek Muara Satu IPTU Abdul Karim menjelaskan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari laporan korban, Khairul (16), seorang pelajar asal Desa Blang Pulo, yang kehilangan sepeda motornya pada Selasa (4/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.

Saat itu, korban bersama seorang rekannya berada di kawasan wisata Goa Jepang. Keduanya kemudian didatangi oleh seorang pria yang menegur mereka karena dianggap melanggar syariat Islam dengan berduaan di lokasi yang sepi. Merasa takut, korban dan rekannya meninggalkan lokasi sehingga sepeda motor miliknya tertinggal. Dari kejauhan, korban melihat dua pria membawa kabur sepeda motornya.

Keesokan harinya, Rabu (5/8/2026), sekitar pukul 18.30 WIB, saudara korban M. Muklis melakukan penelusuran ke sejumlah tempat penampungan barang bekas.

Dari informasi yang diperoleh, diketahui ada seseorang yang berusaha menjual potongan rangka sepeda motor dan blok mesin Honda matic. Saat mendatangi lokasi tersebut, M. Muklis mendapati seorang remaja berinisial T.M. (16) membawa barang-barang tersebut di dalam karung.

Setelah diperiksa, isi karung diduga merupakan bagian dari sepeda motor milik korban. T.M mengaku hanya diminta menjual barang tersebut oleh seorang pria berinisial JS (28). Selanjutnya, TM beserta barang bukti diamankan ke Polsek Muara Satu, sementara korban membuat laporan polisi dengan melampirkan dokumen kepemilikan kendaraan berupa STNK dan BPKB.

Berdasarkan hasil penyelidikan lanjutan, sekitar pukul 21.00 WIB, personel Unit Resmob Polres Lhokseumawe bersama personel Polsek Muara Satu mengamankan seorang terduga pelaku lainnya, ZK (27), di kediamannya di Desa Meuria Paloh, sekaligus mengamankan barang bukti tambahan. Sementara terduga pelaku berinisial JS (28) masih dalam pencarian.

Barang bukti yang berhasil diamankan berupa satu unit sepeda motor Honda matic nomor polisi BL 5537 KAF, potongan kerangka sepeda motor yang telah dipotong, serta satu blok mesin Honda matic.

Kapolsek menegaskan bahwa pihaknya akan terus mendalami kasus tersebut untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat. Ia juga mengimbau masyarakat agar segera melaporkan setiap tindak pidana maupun aktivitas mencurigakan kepada kepolisian sehingga dapat segera ditindaklanjuti.

Saat ini, kedua terduga pelaku beserta barang bukti telah diamankan di Polsek Muara Satu untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut, sedangkan satu terduga pelaku lainnya masih dalam pengejaran petugas. (*)

228 PNS Baru Terima SK, Mualem Minta ASN Profesional dan Berintegritas

By On 21:33

Pemerintah Aceh Angkat 228 Pegawai Negeri Sipil
Pemerintah Aceh Lantik 228 PNS Baru, Siap Perkuat Pelayanan Publik. Foto: Humas Setda Aceh
BANDA ACEH, ReportNews - Pemerintah Aceh mengangkat 228 calon pegawai negeri sipil menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Prosesi pengambilan sumpah dan penyerahan surat keputusan (SK) pengangkatan PNS berlangsung di Gedung Serba Guna Lantai II Sekretariat Daerah Aceh, Banda Aceh, Kamis (6 Agustus 2026).

“Hari ini merupakan hari yang membahagiakan sekaligus menjadi awal dari amanah besar yang Saudara emban sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN),” kata Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Aceh, Teuku Robby Izra.

Gubernur Mualem mengatakan, menjadi PNS bukan sekadar memperoleh status pekerjaan, melainkan mengemban tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat, pelaksana kebijakan publik, serta perekat persatuan bangsa.

Disaksikan Kepala Badan Kepegawaian Aceh (BKA) Abdul Qahar, dan Kabid Kinerja dan Kesejahteraan BKA, Dr Faisal, prosesi pengangkatan ini berlangsung khidmat. Para ASN baru ini disebar pada 22 Satuan Perangkat Kerja Aceh (SKPA). Dari 228 ASN yang diangkat, 6 di antaranya lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Menurut Gubernur Mualem, keberhasilan para ANS mencapai tahap ini tentu bukan sesuatu yang mudah. “Saudara telah melewati proses seleksi yang sangat kompetitif bersama puluhan ribu pelamar melalui sistem Computer Assisted Test (CAT) BKN yang objektif, transparan, dan akuntabel,” katanya.

“Karena itu, kami berharap rasa syukur atas keberhasilan ini diwujudkan melalui dedikasi, integritas, dan etos kerja yang tinggi. Pemerintah Aceh saat ini terus berupaya mewujudkan visi Aceh yang Islami, Maju, Bermartabat, dan Berkelanjutan,” kata Mualem.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Mualem melanjutkan, dibutuhkan ASN yang adaptif terhadap perubahan, menguasai teknologi, berorientasi pada hasil, serta mampu memberikan pelayanan publik yang cepat, profesional, dan berkualitas. “Setelah menerima Surat Keputusan ini, Saudara harus memahami bahwa setiap ASN dituntut untuk bekerja berdasarkan sistem merit, kinerja, dan disiplin.”

Mualem juga mengingatkan seluruh Kepala SKPA agar memberikan pembinaan, orientasi, dan pendampingan kepada para PNS yang baru diangkat. “Masa awal penugasan merupakan fase penting dalam membentuk karakter, budaya kerja, dan profesionalisme ASN,” katanya. (*)

- Jurnalis Armia Jamil - 

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *