HEADLINE NEWS

Kementerian PU Tegaskan Jembatan Enang-Enang Tidak Ditutup, Justru Diperkuat Demi Keselamatan Masyarakat

By On 23:18

Kementerian PU Tegaskan Jembatan Enang-Enang Tidak Ditutup, Justru Diperkuat Demi Keselamatan Masyarakat. Foto: Istimewa.
LOMBOK, ReportNews.id - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menegaskan bahwa Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, tidak ditutup, melainkan sedang dilakukan langkah-langkah penguatan struktur agar tetap aman digunakan secara terbatas.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, hasil pemeriksaan teknis menunjukkan pondasi jembatan dari arah Bireuen menuju Bener Meriah mengalami kemiringan akibat gerusan aliran sungai. Kondisi tersebut telah ditangani dengan penyangga sementara, dan saat ini Kementerian PU segera meningkatkan penanganan melalui perkuatan struktur bawah jembatan.

"Saya sudah berbicara dengan Kepala Balai dan Direktur Jembatan. Perkuatan di bawah jembatan akan kita buat lebih kuat lagi. Yang ada sekarang sifatnya masih sementara. Nanti PT PP akan mengerjakan perkuatan itu dengan penanganan yang lebih baik," kata Menteri Dody, Sabtu (11/7/2026).

Menteri Dody menegaskan, penguatan jembatan bukan berarti penutupan akses. Selama kondisi dinyatakan aman berdasarkan hasil pemantauan teknis, masyarakat masih dapat menggunakan jembatan dengan pembatasan jenis kendaraan demi menjaga keselamatan bersama.

Penguatan struktur bawah jembatan dilaksanakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh bersama Direktorat Pembangunan Jembatan dengan pelaksana konstruksi PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. Penanganan tersebut bertujuan meningkatkan stabilitas pondasi sehingga jembatan tetap aman digunakan selama masa transisi menuju penanganan permanen

Untuk memastikan keamanan, Menteri Dody juga menginstruksikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) bersama BPJN Aceh melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi jembatan, terutama saat terjadi hujan deras yang berpotensi meningkatkan gerusan di sekitar pondasi.

"Saya minta PPK melakukan kontrol rutin. Kalau sewaktu-waktu dinilai membahayakan masyarakat, penggunaan jembatan harus dihentikan sementara sampai kondisi kembali aman. Perbaikan akan terus dilakukan dari bawah sehingga masyarakat tetap bisa melintas dengan aman selama memungkinkan," ujar Menteri Dody.

Selama proses penguatan berlangsung, Jembatan Enang-Enang tetap difungsikan secara terbatas untuk kendaraan roda dua dan kendaraan ringan penumpang. Sementara itu, kendaraan angkutan barang dan kendaraan bertonase besar tetap dilarang melintas guna mengurangi beban pada struktur jembatan.

Sebagai solusi, Kementerian PU juga mempercepat peningkatan konektivitas kawasan melalui pelebaran Jalan Werlah beserta pembangunan dua jembatan baru pada jalur alternatif. Selain itu, pemerintah menyiapkan pembangunan jembatan shortcut di kawasan Enang - Enang yang nantinya mampu melayani kendaraan logistik hingga sekitar 30 ton sehingga mobilitas masyarakat dan distribusi barang menjadi lebih aman dan efisien. (*)

Dua Bendungan di Aceh Diresmikan, Gubernur Mualem Ucapkan Terima Kasih kepada Presiden Prabowo

By On 23:00

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Foto: Humas Setda Aceh
BANDA ACEH, ReportNews.id - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), sampaikan terimakasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto atas peresmian Bendungan Keureuto Aceh Utara, dan Bendungan Rukoh Pidie.

“Berfungsinya dua bendungan itu, sangat bermanfaat bagi Aceh,” kata Gubernur Mualem, Sabtu (11 Juli 2026).

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh bersamaan dengan tiga bendungan lainnya, pada Jumat (10 Juli 2026). Peresmian digelar secara langsung di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Empat lainnya diresmikan secara hybrid, yakni Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh di Aceh, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali.

Mewakkili Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir Syamaun, bersama unsur Forkopimda Aceh, mengikuti rangkaian peresmian tersebut secara virtual di lokasi Bendungan Rukoh, Pidie.

“Pemerintah Aceh menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum atas penyelesaian dua bendungan di Aceh,” kata Sekda Nasir yang didampingi Kepala Dinas Pengairan Aceh, Erwin Ferdiansyah.

Bendungan Keureuto dibangun sejak tahun 2015 dengan nilai kontrak Rp. 2,961 triliun, dan Bendungan Rukoh dibangun sejak 2018 dengan nilai kontrak Rp. 1,7 triliun. “Alhamdulillah sekarang sudah diresmikan Bapak Presiden Prabowo,” kata Nasir.

Sekda Nasir menyampaikan bahwa penyelesaian Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh sebagai Proyek Strategis Nasional menjadi pondasi penguatan ketahanan pangan, ketahanan air, ketahanan energi, dan pengendalian air di Aceh.

Secara detail, Sekda Nasir menjelaskan kemanfaatan dua bendungan tersebut. “Dua bendungan itu mampu melayani 26.889 hektar irigasi,” katanya. Ia menyebutkan Bendungan Keureuto yang berlokasi di Aceh Utara memiliki kapasitas menampung 215 juta meter kubik air.

“Manfaatnya, bendungan itu dapat melayani 14.695 hektar irigasi, penyediaan air baku 650 liter per detik, pengendalian banjir 627 hektar. Bahkan memiliki potensi pembangkit Listrik PLTA 6,34 MW dan potensi PLTS terapung 179 MW sebagai energi baru terbarukan,” katanya.

Adapun Bendungan Rukoh di Pidie, Nasir menyebutkan kapasitas tampungnya mencapai 128 juta meter kubik air. “Bendungan Rukoh melayani irigasi 12.194 hektar di Daerah Irigasi Baro Raya, menyediakan air baku 900 liter per detik untuk 20 kecamatan, mengendalikan banjir 51 hektar, dan potensi pengembangan PLTMH 1,22 MW dan PLTS 137 MW,” katanya.

Selain itu, kata Sekda Nasir, optimalisasi kedua bendungan itu akan mendukung program swasembada pangan nasional melalui indeks pertanaman. “Sebanyak 384.660 ton per tahun,” katanya. “Ketahanan air bagi masyarakat dan kawasan industri, pengembangan energi hijau, dan pengurangan risiko banjir,” katanya.(*)

- Jurnalis Armia Jamil -

Puitika Kopi, Ayo Ngopi Kita Bercerita

By On 22:50

M Nasir, Sekda Aceh. Foto: Istimewa
Penulis: Dr Nurlis Effendi

ReportNews.id - Ada kopi ada cerita, lain kopi lain cerita, tak ada kopi tak usah banyak cerita, ayo ngopi kita bercerita, banyak ngopi banyak kali cerita kau.

Syair itu menyenangkan. Seluruh pengunjung bersama-sama menyanyikannya pada Puitika Kopi di Kedai Kopi Cut Ayah, Pango, Banda Aceh, pada Jumat malam (10 Juli 2026). “Itu lagu kebangsaan Rangkaian Bunga Kopi karya Yoppi Smong, aku tambahkan satu kalimat,” kata seniman Fikar W Eda Fikar yang memandu acara itu pada Sabtu (11 Juli 2026).

Lagu itulah yang menjadi simpul Puitika Kopi mengalir tanpa basa-basi. Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M Nasir Syamaun yang memenuhi undangan ikut larut dalam suasana khitmat pembacaan puisi. Ia menolak memberi sambutan. “Tak ada yang mau dengar seremonial, nanti pembacaan puisi malah jadi acara basi,” katanya.

Itulah sebabnya, panitia mendapuk Nasir ke panggung baca puisi. Jangan mengira ini panggung berdekorasi khusus. Hanya beberapa meja saja digeser untuk memberi ruang. Sedangkan tumpukan kayu bakar di depan dapur kopi di sebelah kiri panggung, aslinya memang begitu.

Di antara tumpukan kayu bakar di bawah atap rumbia dan pengunjung berlalu lalang memesan kopi itulah Sekda Nasir berdiri memegang mikrofon. Ia bilang, puisi yang akan dibacanya itu buatan mesin AI. “Saya minta pada IA agar dibuatkan puisi tentang pejuang. Maka dibuatkannya,” kata Nasir.

Sebetulnya, cerita Nasir di panggung itu lebih menarik perhatian pengunjung daripada puisi buatan AI itu sendiri. “Saya takut baca puisi. Terakhir saya baca puisi tahun 1995 di Balai Gading, Yogyakarta,” katanya. Nasir menyelesaikan S1 di Universitas Widya Mataram dan S2 di Universitas Gajah Mada di Yogyakarta.

Nasir melanjutkan ceritanya. “Saya bersedia membaca puisi waktu itu, karena tertarik pada seorang gadis. Saya membeli buku puisi dan bunga. Namun, gadis itu menolak saya. Maka saya gagal membaca puisi,” katanya.

Meledaklah tawa pengunjung, apalagi di antara pengunjung itu ada Malahayati yang tak lain adalah istri Nasir. “Ini cerita lama ya Ma (panggilan sayang Nasir pada istrinya),” kata Nasir sambil melirik istrinya. “Oh ya, saya gagal di Yogya, dan mendapatkan Bu Mala (Malahayati),” kata Nasir yang kembali disambut gelak tawa.

Gaya santai Nasir inilah yang menghidupkan suasana pembacaan puisi. Setelah Nasir membacakan puisinya, tampillah seniman-seniman ternama Aceh membaca puisinya. Bahkan Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal pun datang ke acara sebagai pembaca puisi.

Seperti syair lagu tadi di atas, bahwa banyak ngopi semakin banyak cerita. Maka pada malam itu, beragam cerita mengalir dari aneka karya puisi dari bergelas-gelas kopi para seniman Aceh. Puisi-puisi itu melukiskan kegelisahan dan kenangan masa lalu para seniman, tentu ada juga yang jenaka dan satir.

Kegelisahan itu berawal dari puisi puisi yang dibacakan Herman RN. Akademisi bergelar doktor ini membaca puisinya yang meriwayatkan cinta rakyat Gayo kepada negara Indonesia yang berbalas kekecewaan.

Pembaca puisi termuda pada malam itu, Fathya Ruziqna, juga menyuarakan kerisauannya. Puisi mahasiswi Universitas Syiah Kuala ini bercerita tentang alam yang dirusak hingga datanglah bencana banjir menggulung pemukiman, sawah, dan ladang. Dari segelas kopi, datang bergelas-gelas air mata.

Kegelisahan Fathya bersambut dalam puisi Jamal Syarif. Seniman ini juga melukiskan perambahan hutan yang mendatangkan bencana. “Manusia menjadi korban yang diciptakan sendiri. Kopi belum sempat diminum habis, kedainya sudah digulung bencana.”

Segelas kopi belum habis, ketika puisi mengalir sampai ke segelas kopi untuk proyek yang dibacakan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthala Muddin. Puisi Murthala seolah bersambut dengan lagu karya Nazar Apache dan Mai Munzir yang berjudul “Poh Bandet” yang malam itu dinyanyikan Mai Munzir.

“Bandet kota ubee raya mbong (bandit kota sangat sombong), bandet gampong peudeuh gaya (bandit kampung banyak gaya), bandet pasai reman meuhamboo (bandit pasar laksana preman), bandet kanto yang cok laba (bandit kantoran yang ambil untung)”.

Lalu ada pengusaha Alwin Abdullah dengan puisinya yang berjudul “Benarkah”. Dibacakan Apa Kaoy, puisi Alwin menggugat kebenaran manusia yang saling membenci dan saling bertikai. “Benarkah itu manusia, sebab manusia dilahirkan bukan untuk saling membenci.”

Segelas kopi tak hanya melahirkan syair kegelisahan. Ia juga melukiskan kenangan cinta seorang anak kepada ibunya melalui kenangan segelas sanger dan sedotan plastik biru dari Devi Matahari. Nah, ada Wina SW1, puisinya menggugat segelas yang menjadi simbol macho. “Kopi bukan milik lelaki, juga bukan milik Perempuan.”

Lalu ada Fauzan Santa. Monolog Kopi yang dibawakannya dengan indah dan jenaka menceritakan tentang Teuku Umar yang berdialog dengan Cut Nyak Dhien untuk secangkir kopi. Kisah perjuangan Pahlawan Aceh Teuku Umar ini memang lekat dengan cerita secangkir kopi terakhirnya.

Tak terasa, malam semakin larut ketika segelas kopi mengalir sampai ke konsep-konsep pengembangan sumber daya manusia sebagaimana tergambar dalam puisi Kepala BPSDM, Dr Marthunis. “Seperti meracik kopi berkualitas tinggi.”

Bergelas-gelas kopi itu tak hanya menghasilkan kegelisahan dan cinta maupun rindu, namun juga melahirkan puisi yang menghitung segelas kopi dalam rupiah. Itulah puisi Sembilan Kata karya Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga, T. Banta Nuzullah. “Dari secangkir kopi itu, ada Rp15,6 miliar setiap hari, Rp468 miliar per bulan, dan Rp5,6 triliun dalam setahun.”

Segelas kopi telah habis, maka cerita dalam tulisan ini juga selesai. Beberapa seniman menyatakan terimakasihnya kepada Nasir yang hadir sebagai diri sendiri dan bebas dari segala protokoler. Sebelum meninggalkan tempat, Sekda Nasir mengatakan terkesan dengan acara Puitika Kopi.

“Menurut saya, kita perlu sering bergaul dengan seniman dan mendengarkan puisi agar kita dapat membuka ruang hati. Saya senang bisa bersama seniman,” katanya. (*)

Penulis: Dr Nurlis Effendi adalah Juru Bicara Pemerintah Aceh

Diduga Sindikat Debt Collector Gadungan Beraksi di Aceh Timur dan Langsa, Ada Dugaan Keterlibatan Oknum Polisi

By On 22:27

Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman, S.Sos., M.Sos
ACEH TIMUR, ReportNews.id - Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman, S.Sos., M.Sos. atau Haji Uma, meminta aparat kepolisian mengusut tuntas dugaan praktik sindikat debt collector gadungan yang diduga beraksi di wilayah Aceh Timur dan Kota Langsa. Permintaan tersebut disampaikan menyusul laporan seorang warga bernama Rahmat yang mengaku menjadi korban penarikan sepeda motor oleh sejumlah orang yang diduga mengatasnamakan perusahaan pembiayaan/Leasing MCF, Sabtu (11/7/2026).

Berdasarkan keterangan korban, pada 09/07/2026 rumahnya didatangi oleh tiga orang yang mengaku sebagai debt collector dengan membawa surat penarikan unit sepeda motor tertunggak. Tiga orang yang mengaku sebagai debt collector tersebut memaksa korban menyerahkan sepeda motornya dengan alasan sudah menunggak selama enam bulan.

Korban membantah memiliki tunggakan hingga enam bulan. Pasalnya, korban mengaku sudah pernah membayar tiga bulan tunggakan melalui debt collector sehingga tersisa tiga bulan. Keterlambatan pembayaran tagihan tersebut, menurut korban, disebabkan lumpuhnya kondisi ekonomi pasca banjir Desember 2025.

Karena keberatan menyerahkan sepeda motornya kepada petugas yang mengaku sebagai debt collector, beberapa waktu kemudian rumah korban kembali didatangi oleh seorang oknum anggota Polisi Polres Aceh Timur. Hingga akhirnya, korban menyerahkan sepeda motor tersebut kepada petugas yang mengaku sebagai debt collector.

Keesokan harinya (10/07/2027), korban menghubungi perusahaan pembiayaan MCF untuk memastikan penarikan sepeda motor miliknya. Namun, pihak MCF membantah adanya penarikan tersebut dan menyatakan tidak pernah mengeluarkan perintah penarikan.

Merasa ada yang janggal, korban kembali menghubungi petugas yang mengaku sebagai debt collector yang melakukan penarikan sepeda motor miliknya. Namun, tidak satu pun dari mereka menjawab panggilan telepon. Hingga akhirnya, korban memberanikan diri menghubungi oknum anggota Polisi yang ikut hadir saat penarikan sepeda motor tersebut.

Selang beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 17.00 WIB, sepeda motor korban diantar kembali ke rumah oleh tiga orang petugas debt collector dan satu orang anggota Polisi.

Saat penyerahan sepeda motor, situasi sempat tegang. Bahkan, dua orang petugas debt collector melarikan diri dan hanya tersisa satu orang petugas yang selanjutnya dilaporkan korban kepada kepolisian setempat.

Selain melaporkan perkara ini kepada kepolisian, korban juga melaporkan kejadian tersebut kepada Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau Haji Uma.

Menanggapi laporan tersebut, Haji Uma meminta kepolisian mengusut secara menyeluruh dugaan praktik debt collector gadungan, termasuk menelusuri dugaan kebocoran data nasabah dan dugaan keterlibatan oknum Polisi apabila ditemukan bukti keterlibatan.

“Apabila benar terdapat praktik debt collector gadungan yang memanfaatkan data nasabah dan merugikan masyarakat, apalagi melibatkan oknum anggota Polisi, kita minta aparat penegak hukum harus mengusutnya secara profesional, transparan, dan tanpa pandang bulu,” kata Haji Uma.

Haji Uma juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap pihak-pihak yang mengaku sebagai debt collector atau petugas perusahaan pembiayaan. Menurutnya, masyarakat tidak boleh langsung menyerahkan kendaraannya apabila pihak yang bersangkutan tidak menunjukkan surat perintah dari perusahaan. Selain itu, masyarakat juga harus memastikan kepada perusahaan pembiayaan mengenai legalitas dan kebenaran tindakan tersebut.

“Saya mengimbau seluruh masyarakat Aceh agar tetap waspada terhadap oknum yang mengaku sebagai debt collector. Pastikan seluruh dokumen dan identitas mereka benar sebelum mengambil keputusan. Jika ada dugaan pelanggaran hukum, jangan ragu melapor kepada kepolisian. Negara harus hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat,” ujar Haji Uma.

Ia juga meminta perusahaan pembiayaan memperketat pengawasan terhadap keamanan data nasabah agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, perusahaan diminta memastikan seluruh proses penagihan dilakukan oleh petugas resmi sesuai prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku.

Haji Uma menegaskan bahwa praktik penarikan kendaraan harus dilakukan sesuai aturan perundang-undangan dan tidak boleh disertai intimidasi, ancaman, maupun tindakan yang merugikan masyarakat.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak-pihak yang disebutkan dalam laporan maupun dari kepolisian terkait dugaan tersebut. Seluruh informasi mengenai dugaan tindak pidana dalam perkara ini masih berdasarkan keterangan korban dan menunggu hasil penyelidikan aparat penegak hukum. (*)

Tujuh Bulan Lebih Pascabanjir, Warga Desa Kala Segi Masih Menanti Perhatian Pemerintah

By On 21:52

Ruas jalan di Desa Kala Segi masih dipenuhi material batu dan tanah sisa banjir. Foto: Dok. LPMH / Dzikrillah Dzakwan Missyal.
ACEH TENGAH, ReportNews.id - Tujuh bulan lebih pasca banjir yang melanda Desa Kala Segi, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, pada November 2025 lalu, kondisi masyarakat hingga kini belum sepenuhnya pulih. Sejumlah kebutuhan dasar masih belum terpenuhi, sementara warga mengaku bantuan dari pemerintah telah lama berhenti disalurkan.

Berdasarkan hasil liputan pada Sabtu (11/7/2026), terlihat sejumlah ruas jalan di Desa Kala Segi masih dipenuhi material batu dan tanah sisa banjir. Beberapa bangunan, termasuk hunian sementara (huntara), juga belum selesai dibangun sehingga proses pemulihan masyarakat belum berjalan secara optimal.

Salah seoarang warga Desa Kala Segi, Jamaluddin, mengatakan bahwa masyarakat masih membutuhkan berbagai bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, pemerintah tidak lagi menyalurkan bantuan kepada warga terdampak meskipun kondisi desa belum sepenuhnya pulih.

"Sampai sekarang kami masih membutuhkan bantuan, dari pemerintah juga tidak pernah datang lagi bantuan," ujar Jamaluddin.

Ia menjelaskan, bantuan yang saat ini masih sangat dibutuhkan warga antara lain pompa air, beras, selang, serta penyelesaian pembangunan hunian sementara yang hingga kini belum rampung.

Desa Kala segi sendiri dihuni sekitar 170 kepala keluarga (KK). Warga berharap pemerintah dan pihak terkait kembali memberikan perhatian terhadap kondisi desa agar proses pemulihan pascabencana dapat segera diselesaikan dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal. (*)


Bupati Aceh Utara Hadiri Peresmian Bendungan Krueng Keureuto oleh Presiden Prabowo

By On 01:19

Peresmian Bendungan Krueng Keureuto, Aceh Utara. Foto: Ist
ACEH UTARA, ReportNews.id - Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M. menghadiri peresmian Bendungan Krueng Keureuto yang dilakukan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, Jumat (10/7/2026).

Peresmian tersebut menjadi bagian dari peresmian serentak lima bendungan strategis nasional yang dipusatkan di Bendungan Meninting, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan diikuti secara virtual dari Bendungan Krueng Keureuto di Kabupaten Aceh Utara, Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali.

Turut mendampingi Bupati Aceh Utara dalam kegiatan tersebut, antara lain perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Kapolres Aceh Utara, Dandim 0103/Aceh Utara, Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Utara, Kepala Kantor Pertanahan Aceh Utara, Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Utara, para kepala perangkat daerah, unsur Muspika, tokoh masyarakat, para keuchik, serta sejumlah undangan lainnya.

Peresmian lima bendungan tersebut merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan, menjamin ketersediaan air baku, meningkatkan pengendalian banjir, serta mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai fondasi pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Bendungan Krueng Keureuto menjadi salah satu proyek infrastruktur sumber daya air terbesar di Provinsi Aceh. Pembangunannya dimulai pada 2015 dan selesai pada 2024 dengan nilai investasi sekitar Rp2,961 triliun.

Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sebesar 215,94 juta meter kubik, luas genangan sekitar 896,39 hektare, dan tinggi 74 meter. Keberadaannya akan mengairi lahan pertanian seluas 14.695 hektare yang meliputi Daerah Irigasi Alue Ubay Kanan seluas 4.646 hektare, Alue Ubay Kiri 4.738 hektare, dan Pase Kanan 5.614 hektare. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.

Selain mendukung sektor pertanian, Bendungan Krueng Keureuto juga akan memasok air baku sebesar 650 liter per detik bagi masyarakat di lima kecamatan, yakni Paya Bakong, Tanah Luas, Pirak Timu, Matang Kuli, dan Lhoksukon. Kehadirannya juga berfungsi meningkatkan pengendalian banjir pada kawasan seluas sekitar 627 hektare yang mencakup Kecamatan Matang Kuli, Lhoksukon, dan Tanah Luas.

Di sektor energi, bendungan ini memiliki potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 6,34 megawatt serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung hingga 179,28 megawatt, sehingga menjadi salah satu aset strategis dalam mendukung transisi menuju energi bersih.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa bendungan tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengelolaan air, tetapi juga merupakan instrumen strategis untuk menjaga ketahanan pangan, menjamin ketersediaan air bersih, memperkuat mitigasi bencana, memperluas pemanfaatan energi terbarukan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.

“Peresmian lima bendungan secara bersamaan menjadi simbol percepatan pembangunan infrastruktur nasional yang diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat fondasi Indonesia menuju kemandirian pangan, air, dan energi,” ujar Presiden Prabowo.

Bupati Aceh Utara menyambut baik diresmikannya Bendungan Krueng Keureuto sebagai salah satu infrastruktur strategis yang akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Keberadaan bendungan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian, memperkuat ketersediaan air baku, mengurangi risiko banjir, serta membuka peluang pengembangan ekonomi di Kabupaten Aceh Utara dan wilayah sekitarnya. (*)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *