BERITA TERBARU

Warga Aceh Keluhkan BBM Langka, Haji Uma Langsung Gerak Cepat, Ini Jawaban Pertamina

By On 21:26

Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman Haji Uma. Foto: Foto ReportNews.id
LANGSA, ReportNews.id – Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, menerima aduan dari masyarakat terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang (Kuala Simpang) yang telah berlangsung selama sekitar tiga hari terakhir. Minggu 12/7/2026.

Masyarakat mengeluhkan sulitnya memperoleh BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kondisi tersebut menyebabkan antrean kendaraan di beberapa SPBU, sementara sebagian masyarakat terpaksa membeli BBM dari pedagang eceran dengan harga yang jauh lebih tinggi dari harga normal.

Di tengah kelangkaan tersebut, beredar informasi di masyarakat yang menyebutkan adanya pengurangan kuota maupun alokasi BBM bersubsidi untuk wilayah Langsa dan Aceh Tamiang. Informasi itu kemudian memunculkan keresahan karena dikhawatirkan akan memperpanjang kelangkaan dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Haji Uma langsung menghubungi Sales Area Manager Retail Aceh PT Pertamina Patra Niaga, Misbahul Bukhori, untuk meminta penjelasan terkait penyebab kelangkaan BBM yang terjadi.

Dalam keterangannya kepada Haji Uma, Misbahul Bukhori memastikan bahwa informasi mengenai adanya pengurangan kuota BBM untuk wilayah Langsa dan Aceh Tamiang tidak benar.

Menurutnya, kelangkaan BBM terjadi akibat adanya kendala teknis serta kerusakan pada beberapa armada pengangkut BBM di Depot Pertamina Sumatera Utara. Ia menjelaskan bahwa secara sistem distribusi, wilayah Langsa dan Kuala Simpang memang berada dalam cakupan pelayanan Depot Pertamina Sumatera Utara sehingga gangguan pada armada distribusi berdampak terhadap keterlambatan pasokan ke SPBU di kedua daerah tersebut.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, PT Pertamina Patra Niaga melalui Sales Area Manager Retail Aceh mengambil langkah cepat dengan menginisiasi penyaluran pasokan tambahan dari Depot Pertamina Lhokseumawe sebagai solusi sementara hingga armada distribusi di Depot Pertamina Sumatera Utara kembali beroperasi normal.

Misbahul Bukhori menyampaikan bahwa proses pemulihan distribusi sedang dilakukan dan kondisi pasokan diperkirakan akan kembali normal dalam beberapa hari ke depan.

"Insya Allah kondisi ini akan segera pulih dalam beberapa hari ke depan. Saat ini pasokan sementara sudah dibantu dari Depot Pertamina Lhokseumawe, sembari menunggu armada distribusi di Depot Pertamina Sumatera Utara selesai di recovery sehingga penyaluran kembali normal," ujar Misbahul Bukhori.

Menanggapi penjelasan tersebut, Haji Uma meminta PT Pertamina Patra Niaga agar mempercepat proses normalisasi distribusi BBM sehingga masyarakat tidak terus mengalami kesulitan memperoleh bahan bakar.

"Saya meminta Pertamina segera melakukan percepatan distribusi agar masyarakat tidak terus terkatung-katung akibat kelangkaan BBM ini. BBM merupakan kebutuhan vital yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk menunjang mobilitas, aktivitas ekonomi, serta keberlangsungan usaha sehari-hari," kata Haji Uma.

Haji Uma juga mendesak agar Depot Pertamina Sumatera Utara meningkatkan komitmennya dalam menjalankan tanggung jawab distribusi sesuai wilayah kerjanya, sehingga pasokan BBM ke Langsa dan Aceh Tamiang dapat terjamin dan kejadian serupa tidak kembali terulang.

"Saya berharap koordinasi antar unit di lingkungan Pertamina terus diperkuat agar distribusi BBM berjalan lancar. Masyarakat tidak boleh menjadi pihak yang terus menanggung dampak akibat kendala teknis dalam proses distribusi. Saya juga meminta agar penyelesaian persoalan ini dipercepat sehingga kondisi kembali normal secepatnya," tutup Haji Uma. (*)

KJE FC Juara Liga Eksekutif JPFC, Tekuk PS BI Lewat Penalti

By On 20:50

Ketua KONI Aceh, Saiful Bahri (Pon Yahya), didampingi Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Husaini, dan Ketum JPFC, Muzakir Nurdin, Saat Menyerahkan Piala kepada Juara Pertama. Foto: M Yasir/ ReportNews.id
LHOKSEUMAWE, ReportNews.id – Koperasi Keuramat Jaya Energy (KJE) FC berhasil mengukir prestasi sebagai juara Liga Eksekutif JPFC VIII usai mengalahkan PS Bank Indonesia (BI) Lhokseumawe dengan skor tipis 1-0 pada partai final, di Stadion Tunas Bangsa, Lhokseumawe, Minggu, 12 Juli 2026, sore.

Laga puncak berlangsung sengit dan penuh tensi sejak menit awal. Kedua tim tampil menyerang dengan saling melancarkan serangan berbahaya demi membuka keunggulan.

KJE FC yang diperkuat M. Sanusi, M. Dahlan alias Maklan, dan Uriansyah beberapa kali mengancam gawang PS BI. Namun, penampilan cermat penjaga gawang PS BI, Dedy, membuat peluang-peluang tersebut gagal berbuah gol.

Di sisi lain, PS Bank Indonesia juga tak tinggal diam. Al Banna, Khadafi, Maulizul Akbar, dan rekan-rekannya beberapa kali membangun serangan cepat untuk membongkar pertahanan KJE FC. Tetapi lini belakang dan penampilan apik kiper KJE FC, Raja Selamat, membuat skor tetap imbang tanpa gol hingga babak pertama berakhir.

Memasuki babak kedua, pertandingan semakin menarik. Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-43 ketika wasit Zulfikar menunjuk titik putih setelah kapten PS BI, Al Banna, melakukan handball di dalam kotak penalti.

Kesempatan itu dimanfaatkan dengan sempurna oleh Azril Nabawi. Tendangan penaltinya gagal dibendung kiper Dedy dan membawa KJE FC unggul 1-0.

Tertinggal satu gol, PS BI meningkatkan serangan demi mencari gol penyeimbang. Sejumlah peluang berhasil diciptakan, namun tidak mampu menembus rapatnya pertahanan KJE FC.

Hingga peluit panjang dibunyikan wasit, skor 1-0 tetap bertahan untuk kemenangan KJE FC. Dalam pertandingan tersebut, wasit mengeluarkan dua kartu kuning kepada pemain PS BI dan satu kartu kuning untuk pemain KJE FC.

Atas kemenangan itu, KJE FC berhak membawa pulang trofi juara Liga Eksekutif JPFC VIII, uang pembinaan sebesar Rp3 juta, serta satu ekor kambing. Sementara PS Bank Indonesia Lhokseumawe sebagai runner-up menerima trofi, uang pembinaan Rp2 juta, dan satu ekor kambing.

Meski gagal menjadi juara, PS BI tetap membawa pulang penghargaan individu melalui Maulizul Akbar, yang dinobatkan sebagai top skor Liga Eksekutif JPFC VIII dan berhak menerima hadiah sejumlah uang tunai.

Final Liga Eksekutif JPFC VIII berlangsung dalam suasana sportif dan disaksikan antusiasme ratusan suporter yang hadir Stadion Tunas Bangsa. Turnamen yang digagas Jurnalis Pase Football Club (JPFC) ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus mempererat kebersamaan antarlembaga, instansi pemerintah dan swasta.

Penutupan turnamen dilakukan oleh Ketua KONI Aceh, Saiful Bahri akrab disapa Pon Yahya, didampingi Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Husaini, serta dihadiri unsur Forkopimda dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Pon Yahya mengapresiasi penyelenggaraan Liga Eksekutif JPFC VIII.

Menurutnya, inisiatif para jurnalis yang tergabung dalam JPFC telah menghadirkan wadah positif untuk mempererat hubungan antarlembaga, instansi pemerintah, perusahaan swasta, dan masyarakat di Lhokseumawe maupun Aceh Utara.

Pada kesempatan yang sama, panitia juga menyerahkan piagam penghargaan kepada sejumlah mitra pendukung yang telah berkontribusi menyukseskan turnamen.

Di antaranya PT Pupuk Iskandar Muda, PT Perta Arun Gas, PT Pema Global Energy, Bank Aceh Syariah Cabang Lhokseumawe, Universitas Malikussaleh, SPPG Banda Sakti, PLN Nusantara Power UP Arun, KONI Aceh Utara, PT Pembangunan Lhokseumawe (Perseroda), Karang Taruna Lhokseumawe.

Selanjutnya, Batalyon B Pelopor Polda Aceh, Dinas Kesehatan Lhokseumawe, Dinas Pemadam Kebakaran Lhokseumawe, Polres Lhokseumawe, DLHK Lhokseumawe, Bagian Umum Setdako Lhokseumawe, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, RSU Cut Meutia, Bank Indonesia Perwakilan Lhokseumawe, Koperasi Keuramat Jaya Energy (KJE), serta Pemerintah Kota Lhokseumawe. (*)

- Jurnalis Armia Jamil -

Kementerian PU Tegaskan Jembatan Enang-Enang Tidak Ditutup, Justru Diperkuat Demi Keselamatan Masyarakat

By On 23:18

Kementerian PU Tegaskan Jembatan Enang-Enang Tidak Ditutup, Justru Diperkuat Demi Keselamatan Masyarakat. Foto: Istimewa.
LOMBOK, ReportNews.id - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menegaskan bahwa Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, tidak ditutup, melainkan sedang dilakukan langkah-langkah penguatan struktur agar tetap aman digunakan secara terbatas.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, hasil pemeriksaan teknis menunjukkan pondasi jembatan dari arah Bireuen menuju Bener Meriah mengalami kemiringan akibat gerusan aliran sungai. Kondisi tersebut telah ditangani dengan penyangga sementara, dan saat ini Kementerian PU segera meningkatkan penanganan melalui perkuatan struktur bawah jembatan.

"Saya sudah berbicara dengan Kepala Balai dan Direktur Jembatan. Perkuatan di bawah jembatan akan kita buat lebih kuat lagi. Yang ada sekarang sifatnya masih sementara. Nanti PT PP akan mengerjakan perkuatan itu dengan penanganan yang lebih baik," kata Menteri Dody, Sabtu (11/7/2026).

Menteri Dody menegaskan, penguatan jembatan bukan berarti penutupan akses. Selama kondisi dinyatakan aman berdasarkan hasil pemantauan teknis, masyarakat masih dapat menggunakan jembatan dengan pembatasan jenis kendaraan demi menjaga keselamatan bersama.

Penguatan struktur bawah jembatan dilaksanakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh bersama Direktorat Pembangunan Jembatan dengan pelaksana konstruksi PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. Penanganan tersebut bertujuan meningkatkan stabilitas pondasi sehingga jembatan tetap aman digunakan selama masa transisi menuju penanganan permanen

Untuk memastikan keamanan, Menteri Dody juga menginstruksikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) bersama BPJN Aceh melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi jembatan, terutama saat terjadi hujan deras yang berpotensi meningkatkan gerusan di sekitar pondasi.

"Saya minta PPK melakukan kontrol rutin. Kalau sewaktu-waktu dinilai membahayakan masyarakat, penggunaan jembatan harus dihentikan sementara sampai kondisi kembali aman. Perbaikan akan terus dilakukan dari bawah sehingga masyarakat tetap bisa melintas dengan aman selama memungkinkan," ujar Menteri Dody.

Selama proses penguatan berlangsung, Jembatan Enang-Enang tetap difungsikan secara terbatas untuk kendaraan roda dua dan kendaraan ringan penumpang. Sementara itu, kendaraan angkutan barang dan kendaraan bertonase besar tetap dilarang melintas guna mengurangi beban pada struktur jembatan.

Sebagai solusi, Kementerian PU juga mempercepat peningkatan konektivitas kawasan melalui pelebaran Jalan Werlah beserta pembangunan dua jembatan baru pada jalur alternatif. Selain itu, pemerintah menyiapkan pembangunan jembatan shortcut di kawasan Enang - Enang yang nantinya mampu melayani kendaraan logistik hingga sekitar 30 ton sehingga mobilitas masyarakat dan distribusi barang menjadi lebih aman dan efisien. (*)

Dua Bendungan di Aceh Diresmikan, Gubernur Mualem Ucapkan Terima Kasih kepada Presiden Prabowo

By On 23:00

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. Foto: Humas Setda Aceh
BANDA ACEH, ReportNews.id - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), sampaikan terimakasih kepada Presiden RI Prabowo Subianto atas peresmian Bendungan Keureuto Aceh Utara, dan Bendungan Rukoh Pidie.

“Berfungsinya dua bendungan itu, sangat bermanfaat bagi Aceh,” kata Gubernur Mualem, Sabtu (11 Juli 2026).

Presiden Prabowo Subianto meresmikan Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh bersamaan dengan tiga bendungan lainnya, pada Jumat (10 Juli 2026). Peresmian digelar secara langsung di Bendungan Meninting, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Empat lainnya diresmikan secara hybrid, yakni Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh di Aceh, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali.

Mewakkili Gubernur Aceh, Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir Syamaun, bersama unsur Forkopimda Aceh, mengikuti rangkaian peresmian tersebut secara virtual di lokasi Bendungan Rukoh, Pidie.

“Pemerintah Aceh menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum atas penyelesaian dua bendungan di Aceh,” kata Sekda Nasir yang didampingi Kepala Dinas Pengairan Aceh, Erwin Ferdiansyah.

Bendungan Keureuto dibangun sejak tahun 2015 dengan nilai kontrak Rp. 2,961 triliun, dan Bendungan Rukoh dibangun sejak 2018 dengan nilai kontrak Rp. 1,7 triliun. “Alhamdulillah sekarang sudah diresmikan Bapak Presiden Prabowo,” kata Nasir.

Sekda Nasir menyampaikan bahwa penyelesaian Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh sebagai Proyek Strategis Nasional menjadi pondasi penguatan ketahanan pangan, ketahanan air, ketahanan energi, dan pengendalian air di Aceh.

Secara detail, Sekda Nasir menjelaskan kemanfaatan dua bendungan tersebut. “Dua bendungan itu mampu melayani 26.889 hektar irigasi,” katanya. Ia menyebutkan Bendungan Keureuto yang berlokasi di Aceh Utara memiliki kapasitas menampung 215 juta meter kubik air.

“Manfaatnya, bendungan itu dapat melayani 14.695 hektar irigasi, penyediaan air baku 650 liter per detik, pengendalian banjir 627 hektar. Bahkan memiliki potensi pembangkit Listrik PLTA 6,34 MW dan potensi PLTS terapung 179 MW sebagai energi baru terbarukan,” katanya.

Adapun Bendungan Rukoh di Pidie, Nasir menyebutkan kapasitas tampungnya mencapai 128 juta meter kubik air. “Bendungan Rukoh melayani irigasi 12.194 hektar di Daerah Irigasi Baro Raya, menyediakan air baku 900 liter per detik untuk 20 kecamatan, mengendalikan banjir 51 hektar, dan potensi pengembangan PLTMH 1,22 MW dan PLTS 137 MW,” katanya.

Selain itu, kata Sekda Nasir, optimalisasi kedua bendungan itu akan mendukung program swasembada pangan nasional melalui indeks pertanaman. “Sebanyak 384.660 ton per tahun,” katanya. “Ketahanan air bagi masyarakat dan kawasan industri, pengembangan energi hijau, dan pengurangan risiko banjir,” katanya.(*)

- Jurnalis Armia Jamil -

Puitika Kopi, Ayo Ngopi Kita Bercerita

By On 22:50

M Nasir, Sekda Aceh. Foto: Istimewa
Penulis: Dr Nurlis Effendi

ReportNews.id - Ada kopi ada cerita, lain kopi lain cerita, tak ada kopi tak usah banyak cerita, ayo ngopi kita bercerita, banyak ngopi banyak kali cerita kau.

Syair itu menyenangkan. Seluruh pengunjung bersama-sama menyanyikannya pada Puitika Kopi di Kedai Kopi Cut Ayah, Pango, Banda Aceh, pada Jumat malam (10 Juli 2026). “Itu lagu kebangsaan Rangkaian Bunga Kopi karya Yoppi Smong, aku tambahkan satu kalimat,” kata seniman Fikar W Eda Fikar yang memandu acara itu pada Sabtu (11 Juli 2026).

Lagu itulah yang menjadi simpul Puitika Kopi mengalir tanpa basa-basi. Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M Nasir Syamaun yang memenuhi undangan ikut larut dalam suasana khitmat pembacaan puisi. Ia menolak memberi sambutan. “Tak ada yang mau dengar seremonial, nanti pembacaan puisi malah jadi acara basi,” katanya.

Itulah sebabnya, panitia mendapuk Nasir ke panggung baca puisi. Jangan mengira ini panggung berdekorasi khusus. Hanya beberapa meja saja digeser untuk memberi ruang. Sedangkan tumpukan kayu bakar di depan dapur kopi di sebelah kiri panggung, aslinya memang begitu.

Di antara tumpukan kayu bakar di bawah atap rumbia dan pengunjung berlalu lalang memesan kopi itulah Sekda Nasir berdiri memegang mikrofon. Ia bilang, puisi yang akan dibacanya itu buatan mesin AI. “Saya minta pada IA agar dibuatkan puisi tentang pejuang. Maka dibuatkannya,” kata Nasir.

Sebetulnya, cerita Nasir di panggung itu lebih menarik perhatian pengunjung daripada puisi buatan AI itu sendiri. “Saya takut baca puisi. Terakhir saya baca puisi tahun 1995 di Balai Gading, Yogyakarta,” katanya. Nasir menyelesaikan S1 di Universitas Widya Mataram dan S2 di Universitas Gajah Mada di Yogyakarta.

Nasir melanjutkan ceritanya. “Saya bersedia membaca puisi waktu itu, karena tertarik pada seorang gadis. Saya membeli buku puisi dan bunga. Namun, gadis itu menolak saya. Maka saya gagal membaca puisi,” katanya.

Meledaklah tawa pengunjung, apalagi di antara pengunjung itu ada Malahayati yang tak lain adalah istri Nasir. “Ini cerita lama ya Ma (panggilan sayang Nasir pada istrinya),” kata Nasir sambil melirik istrinya. “Oh ya, saya gagal di Yogya, dan mendapatkan Bu Mala (Malahayati),” kata Nasir yang kembali disambut gelak tawa.

Gaya santai Nasir inilah yang menghidupkan suasana pembacaan puisi. Setelah Nasir membacakan puisinya, tampillah seniman-seniman ternama Aceh membaca puisinya. Bahkan Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal pun datang ke acara sebagai pembaca puisi.

Seperti syair lagu tadi di atas, bahwa banyak ngopi semakin banyak cerita. Maka pada malam itu, beragam cerita mengalir dari aneka karya puisi dari bergelas-gelas kopi para seniman Aceh. Puisi-puisi itu melukiskan kegelisahan dan kenangan masa lalu para seniman, tentu ada juga yang jenaka dan satir.

Kegelisahan itu berawal dari puisi puisi yang dibacakan Herman RN. Akademisi bergelar doktor ini membaca puisinya yang meriwayatkan cinta rakyat Gayo kepada negara Indonesia yang berbalas kekecewaan.

Pembaca puisi termuda pada malam itu, Fathya Ruziqna, juga menyuarakan kerisauannya. Puisi mahasiswi Universitas Syiah Kuala ini bercerita tentang alam yang dirusak hingga datanglah bencana banjir menggulung pemukiman, sawah, dan ladang. Dari segelas kopi, datang bergelas-gelas air mata.

Kegelisahan Fathya bersambut dalam puisi Jamal Syarif. Seniman ini juga melukiskan perambahan hutan yang mendatangkan bencana. “Manusia menjadi korban yang diciptakan sendiri. Kopi belum sempat diminum habis, kedainya sudah digulung bencana.”

Segelas kopi belum habis, ketika puisi mengalir sampai ke segelas kopi untuk proyek yang dibacakan Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthala Muddin. Puisi Murthala seolah bersambut dengan lagu karya Nazar Apache dan Mai Munzir yang berjudul “Poh Bandet” yang malam itu dinyanyikan Mai Munzir.

“Bandet kota ubee raya mbong (bandit kota sangat sombong), bandet gampong peudeuh gaya (bandit kampung banyak gaya), bandet pasai reman meuhamboo (bandit pasar laksana preman), bandet kanto yang cok laba (bandit kantoran yang ambil untung)”.

Lalu ada pengusaha Alwin Abdullah dengan puisinya yang berjudul “Benarkah”. Dibacakan Apa Kaoy, puisi Alwin menggugat kebenaran manusia yang saling membenci dan saling bertikai. “Benarkah itu manusia, sebab manusia dilahirkan bukan untuk saling membenci.”

Segelas kopi tak hanya melahirkan syair kegelisahan. Ia juga melukiskan kenangan cinta seorang anak kepada ibunya melalui kenangan segelas sanger dan sedotan plastik biru dari Devi Matahari. Nah, ada Wina SW1, puisinya menggugat segelas yang menjadi simbol macho. “Kopi bukan milik lelaki, juga bukan milik Perempuan.”

Lalu ada Fauzan Santa. Monolog Kopi yang dibawakannya dengan indah dan jenaka menceritakan tentang Teuku Umar yang berdialog dengan Cut Nyak Dhien untuk secangkir kopi. Kisah perjuangan Pahlawan Aceh Teuku Umar ini memang lekat dengan cerita secangkir kopi terakhirnya.

Tak terasa, malam semakin larut ketika segelas kopi mengalir sampai ke konsep-konsep pengembangan sumber daya manusia sebagaimana tergambar dalam puisi Kepala BPSDM, Dr Marthunis. “Seperti meracik kopi berkualitas tinggi.”

Bergelas-gelas kopi itu tak hanya menghasilkan kegelisahan dan cinta maupun rindu, namun juga melahirkan puisi yang menghitung segelas kopi dalam rupiah. Itulah puisi Sembilan Kata karya Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga, T. Banta Nuzullah. “Dari secangkir kopi itu, ada Rp15,6 miliar setiap hari, Rp468 miliar per bulan, dan Rp5,6 triliun dalam setahun.”

Segelas kopi telah habis, maka cerita dalam tulisan ini juga selesai. Beberapa seniman menyatakan terimakasihnya kepada Nasir yang hadir sebagai diri sendiri dan bebas dari segala protokoler. Sebelum meninggalkan tempat, Sekda Nasir mengatakan terkesan dengan acara Puitika Kopi.

“Menurut saya, kita perlu sering bergaul dengan seniman dan mendengarkan puisi agar kita dapat membuka ruang hati. Saya senang bisa bersama seniman,” katanya. (*)

Penulis: Dr Nurlis Effendi adalah Juru Bicara Pemerintah Aceh

Diduga Sindikat Debt Collector Gadungan Beraksi di Aceh Timur dan Langsa, Ada Dugaan Keterlibatan Oknum Polisi

By On 22:27

Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman, S.Sos., M.Sos
ACEH TIMUR, ReportNews.id - Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman, S.Sos., M.Sos. atau Haji Uma, meminta aparat kepolisian mengusut tuntas dugaan praktik sindikat debt collector gadungan yang diduga beraksi di wilayah Aceh Timur dan Kota Langsa. Permintaan tersebut disampaikan menyusul laporan seorang warga bernama Rahmat yang mengaku menjadi korban penarikan sepeda motor oleh sejumlah orang yang diduga mengatasnamakan perusahaan pembiayaan/Leasing MCF, Sabtu (11/7/2026).

Berdasarkan keterangan korban, pada 09/07/2026 rumahnya didatangi oleh tiga orang yang mengaku sebagai debt collector dengan membawa surat penarikan unit sepeda motor tertunggak. Tiga orang yang mengaku sebagai debt collector tersebut memaksa korban menyerahkan sepeda motornya dengan alasan sudah menunggak selama enam bulan.

Korban membantah memiliki tunggakan hingga enam bulan. Pasalnya, korban mengaku sudah pernah membayar tiga bulan tunggakan melalui debt collector sehingga tersisa tiga bulan. Keterlambatan pembayaran tagihan tersebut, menurut korban, disebabkan lumpuhnya kondisi ekonomi pasca banjir Desember 2025.

Karena keberatan menyerahkan sepeda motornya kepada petugas yang mengaku sebagai debt collector, beberapa waktu kemudian rumah korban kembali didatangi oleh seorang oknum anggota Polisi Polres Aceh Timur. Hingga akhirnya, korban menyerahkan sepeda motor tersebut kepada petugas yang mengaku sebagai debt collector.

Keesokan harinya (10/07/2027), korban menghubungi perusahaan pembiayaan MCF untuk memastikan penarikan sepeda motor miliknya. Namun, pihak MCF membantah adanya penarikan tersebut dan menyatakan tidak pernah mengeluarkan perintah penarikan.

Merasa ada yang janggal, korban kembali menghubungi petugas yang mengaku sebagai debt collector yang melakukan penarikan sepeda motor miliknya. Namun, tidak satu pun dari mereka menjawab panggilan telepon. Hingga akhirnya, korban memberanikan diri menghubungi oknum anggota Polisi yang ikut hadir saat penarikan sepeda motor tersebut.

Selang beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 17.00 WIB, sepeda motor korban diantar kembali ke rumah oleh tiga orang petugas debt collector dan satu orang anggota Polisi.

Saat penyerahan sepeda motor, situasi sempat tegang. Bahkan, dua orang petugas debt collector melarikan diri dan hanya tersisa satu orang petugas yang selanjutnya dilaporkan korban kepada kepolisian setempat.

Selain melaporkan perkara ini kepada kepolisian, korban juga melaporkan kejadian tersebut kepada Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau Haji Uma.

Menanggapi laporan tersebut, Haji Uma meminta kepolisian mengusut secara menyeluruh dugaan praktik debt collector gadungan, termasuk menelusuri dugaan kebocoran data nasabah dan dugaan keterlibatan oknum Polisi apabila ditemukan bukti keterlibatan.

“Apabila benar terdapat praktik debt collector gadungan yang memanfaatkan data nasabah dan merugikan masyarakat, apalagi melibatkan oknum anggota Polisi, kita minta aparat penegak hukum harus mengusutnya secara profesional, transparan, dan tanpa pandang bulu,” kata Haji Uma.

Haji Uma juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap pihak-pihak yang mengaku sebagai debt collector atau petugas perusahaan pembiayaan. Menurutnya, masyarakat tidak boleh langsung menyerahkan kendaraannya apabila pihak yang bersangkutan tidak menunjukkan surat perintah dari perusahaan. Selain itu, masyarakat juga harus memastikan kepada perusahaan pembiayaan mengenai legalitas dan kebenaran tindakan tersebut.

“Saya mengimbau seluruh masyarakat Aceh agar tetap waspada terhadap oknum yang mengaku sebagai debt collector. Pastikan seluruh dokumen dan identitas mereka benar sebelum mengambil keputusan. Jika ada dugaan pelanggaran hukum, jangan ragu melapor kepada kepolisian. Negara harus hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat,” ujar Haji Uma.

Ia juga meminta perusahaan pembiayaan memperketat pengawasan terhadap keamanan data nasabah agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, perusahaan diminta memastikan seluruh proses penagihan dilakukan oleh petugas resmi sesuai prosedur dan ketentuan hukum yang berlaku.

Haji Uma menegaskan bahwa praktik penarikan kendaraan harus dilakukan sesuai aturan perundang-undangan dan tidak boleh disertai intimidasi, ancaman, maupun tindakan yang merugikan masyarakat.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak-pihak yang disebutkan dalam laporan maupun dari kepolisian terkait dugaan tersebut. Seluruh informasi mengenai dugaan tindak pidana dalam perkara ini masih berdasarkan keterangan korban dan menunggu hasil penyelidikan aparat penegak hukum. (*)

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *