![]() |
| Peresmian Bendungan Krueng Keureuto, Aceh Utara. Foto: Ist |
Peresmian tersebut menjadi bagian dari peresmian serentak lima bendungan strategis nasional yang dipusatkan di Bendungan Meninting, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan diikuti secara virtual dari Bendungan Krueng Keureuto di Kabupaten Aceh Utara, Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali.
Turut mendampingi Bupati Aceh Utara dalam kegiatan tersebut, antara lain perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Wilayah Sungai Sumatera I, Kapolres Aceh Utara, Dandim 0103/Aceh Utara, Kepala Kejaksaan Negeri Aceh Utara, Kepala Kantor Pertanahan Aceh Utara, Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Utara, para kepala perangkat daerah, unsur Muspika, tokoh masyarakat, para keuchik, serta sejumlah undangan lainnya.
Peresmian lima bendungan tersebut merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dirancang untuk memperkuat ketahanan pangan, menjamin ketersediaan air baku, meningkatkan pengendalian banjir, serta mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai fondasi pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Bendungan Krueng Keureuto menjadi salah satu proyek infrastruktur sumber daya air terbesar di Provinsi Aceh. Pembangunannya dimulai pada 2015 dan selesai pada 2024 dengan nilai investasi sekitar Rp2,961 triliun.
Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sebesar 215,94 juta meter kubik, luas genangan sekitar 896,39 hektare, dan tinggi 74 meter. Keberadaannya akan mengairi lahan pertanian seluas 14.695 hektare yang meliputi Daerah Irigasi Alue Ubay Kanan seluas 4.646 hektare, Alue Ubay Kiri 4.738 hektare, dan Pase Kanan 5.614 hektare. Infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat upaya mewujudkan swasembada pangan nasional.
Selain mendukung sektor pertanian, Bendungan Krueng Keureuto juga akan memasok air baku sebesar 650 liter per detik bagi masyarakat di lima kecamatan, yakni Paya Bakong, Tanah Luas, Pirak Timu, Matang Kuli, dan Lhoksukon. Kehadirannya juga berfungsi meningkatkan pengendalian banjir pada kawasan seluas sekitar 627 hektare yang mencakup Kecamatan Matang Kuli, Lhoksukon, dan Tanah Luas.
Di sektor energi, bendungan ini memiliki potensi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 6,34 megawatt serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung hingga 179,28 megawatt, sehingga menjadi salah satu aset strategis dalam mendukung transisi menuju energi bersih.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa bendungan tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengelolaan air, tetapi juga merupakan instrumen strategis untuk menjaga ketahanan pangan, menjamin ketersediaan air bersih, memperkuat mitigasi bencana, memperluas pemanfaatan energi terbarukan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah.
“Peresmian lima bendungan secara bersamaan menjadi simbol percepatan pembangunan infrastruktur nasional yang diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat fondasi Indonesia menuju kemandirian pangan, air, dan energi,” ujar Presiden Prabowo.
Bupati Aceh Utara menyambut baik diresmikannya Bendungan Krueng Keureuto sebagai salah satu infrastruktur strategis yang akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Keberadaan bendungan ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian, memperkuat ketersediaan air baku, mengurangi risiko banjir, serta membuka peluang pengembangan ekonomi di Kabupaten Aceh Utara dan wilayah sekitarnya. (*)
Newest
You are reading the newest post
You are reading the newest post
Next
Next Post »
Next Post »
