BERITA TERBARU

Pasar Geudong Terpuruk, IMA-Samudera Minta Audit Menyeluruh Aset Daerah

By On 20:09

Fajar Ramadhan, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Samudera (IMA-SAMUDERA) Foto: Ist

ACEH UTARA, ReportNews.id - Kondisi Pasar Geudong (Keude Geudong) yang kini semakin sepi dan kehilangan perannya sebagai pusat perdagangan masyarakat mendapat perhatian serius dari kalangan mahasiswa. Fajar Ramadhan, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Samudera (IMA-SAMUDERA), menilai kemunduran Pasar Geudong bukan persoalan biasa, melainkan masalah yang harus menjadi perhatian pemerintah karena menyangkut pengelolaan aset daerah yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat Aceh Utara, khususnya Kecamatan Samudera dan sekitarnya.‎

‎Menurut Fajar, Keude Geudong pernah menjadi salah satu pusat ekonomi terbesar di wilayah tersebut. Aktivitas jual beli berlangsung setiap hari, pedagang memperoleh penghasilan, dan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mudah. Namun, kondisi saat ini sangat berbeda. Kawasan yang dahulu ramai kini terlihat sepi dan kehilangan denyut ekonominya.

‎"Bek meuen-meuen bak kanot bu ureung chik kamo. Keude Geudong adalah milik rakyat dan menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat. Jika revitalisasi dan pembangunan dilakukan atas nama kemajuan, maka masyarakat berhak mengetahui hasil dan manfaatnya. Jangan sampai yang dijanjikan adalah kemajuan, tetapi yang dirasakan masyarakat justru kemunduran," tegas Fajar.

‎‎Fajar menjelaskan bahwa Pasar Geudong merupakan aset daerah yang pengelolaannya berada di bawah PT Bina Usaha Perseroan sebagai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara. Karena itu, setiap kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan, pembangunan, revitalisasi, maupun pemanfaatan aset tersebut harus dilaksanakan secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

‎‎Ia menambahkan bahwa Pasal 331 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah serta Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2017 tentang BUMD menegaskan bahwa BUMD didirikan untuk memberikan manfaat bagi perkembangan perekonomian daerah, menyelenggarakan kemanfaatan umum, dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

‎"Jika sebuah aset daerah yang dulunya menjadi pusat ekonomi masyarakat justru mengalami kemunduran, maka wajar apabila publik mempertanyakan efektivitas pengelolaannya. Pemerintah dan pihak terkait perlu memberikan penjelasan yang terbuka kepada masyarakat," ujar Fajar.

‎‎Atas dasar itu, Kami Mahasiswa Samudera meminta Bupati Aceh Utara, DPRK Aceh Utara, Inspektorat, BPK, BPKP, Kejaksaan, dan Kepolisian untuk melakukan audit serta evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan Pasar Geudong. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan bahwa pengelolaan aset daerah benar-benar berjalan sesuai aturan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

‎"Masyarakat berhak mengetahui mengapa pusat ekonomi yang telah hidup selama puluhan tahun kini mengalami kemunduran yang begitu drastis. Audit harus dilakukan secara terbuka dan objektif agar persoalan yang sebenarnya dapat diketahui. Jika ada kesalahan kebijakan, kelalaian, atau penyimpangan dalam pengelolaannya, maka harus dievaluasi dan dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegasnya.

‎Mahasiswa juga menegaskan bahwa apabila ditemukan adanya penyalahgunaan kewenangan, pelanggaran hukum, atau tindakan yang merugikan keuangan daerah maupun masyarakat, maka proses penegakan hukum harus dilakukan secara transparan dan tanpa pandang bulu.

‎"Keude Geudong bukan hanya deretan kios dan bangunan pasar. Ia adalah ruang hidup masyarakat, tempat banyak keluarga mencari nafkah dan menggantungkan harapan. Ketika pasar ini kehilangan fungsinya, yang terdampak bukan hanya aktivitas perdagangan, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung padanya. Karena itu, sudah saatnya semua pihak serius mencari solusi dan memastikan Pasar Geudong kembali hidup sebagaimana mestinya," tutup Fajar. (*)

Pascabanjir, Aceh Utara Fokus Pembersihan Dayah, Prioritas Pendidikan Santri Berjalan Lancar

By On 19:50

Bupati Aceh Utara Gerakkan Pembersihan Dayah Terdampak Banjir, Pendidikan Santri Jadi Prioritas. Foto: Ist

ACEH UTARA, ReportNews.id - Pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M. akrap sapaan ayahwa bergerak cepat memastikan roda pendidikan dayah kembali berjalan. Melalui instruksi langsung, Bupati memerintahkan Dinas Pendidikan Dayah bersama seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk turun ke lapangan membersihkan lembaga pendidikan dan tempat ibadah yang terdampak banjir.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Utara bersama relawan peduli dayah melaksanakan gotong royong pembersihan lumpur dan sampah di Dayah Malem Diwa, Gampong Cot Bada, Kecamatan Langkahan, Sabtu (27/12/2025). Lumpur tebal yang mengendap akibat banjir menjadi tantangan tersendiri, namun tidak menyurutkan semangat para petugas dan relawan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Utara, Tengku Muhammad Yunus, S.Hi., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian dan respons cepat Pemerintah Kabupaten Aceh Utara di bawah kepemimpinan Bupati ayahwa

“Bupati Aceh Utara menginstruksikan seluruh OPD untuk bergerak serentak membersihkan fasilitas yang terdampak banjir, terutama dayah sebagai pusat pendidikan dan pembinaan akhlak. Tujuannya jelas, agar para santri dapat segera kembali mengikuti beut seumeubeut (mengaji) dengan aman dan nyaman,” ujar Muhammad Yunus.

Dalam kegiatan tersebut, aparatur sipil negara, pengelola dayah, dan relawan bahu-membahu membersihkan ruang belajar, halaman, serta lingkungan sekitar dayah dari lumpur dan material sisa banjir. Meski demikian, kondisi lumpur yang sangat tebal di beberapa titik membuat proses pembersihan membutuhkan dukungan alat berat.

“Kami berharap adanya bantuan alat angkut, seperti excavator mini dari BPBD atau dinas teknis terkait, agar pengangkatan lumpur dapat dipercepat. Ini penting supaya proses pemulihan dayah berjalan lebih optimal,” jelasnya Muhammad Yunus.

Bencana hidrometeorologi yang terjadi beberapa waktu lalu tercatat menyebabkan dampak signifikan terhadap sektor pendidikan dayah di Aceh Utara. Dari total 286 dayah yang ada, sebanyak 211 dayah terdampak banjir, dengan rincian 10 dayah mengalami kerusakan berat, 195 rusak sedang, dan 6 rusak ringan.

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara terus menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, memastikan pemulihan pascabencana tidak hanya menyentuh infrastruktur, tetapi juga menjamin keberlangsungan pendidikan dan kenyamanan para santri di seluruh wilayah Aceh Utara. (*)





Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *