UMKM Aceh Tamiang Terjepit Utang Pasca Bencana Hidrometeorologi

Fahruzzaman, pemilik pabrik penggilingan padi di Kecamatan Manyak Payed. Foto: Yusradi

ACEH TAMIANG, ReportNews.id - Enam bulan lebih pasca banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih berjuang memulihkan usahanya. Selain menanggung kerugian akibat rusaknya aset dan tempat usaha, mereka juga harus menghadapi beban pinjaman modal di tengah menurunnya pendapatan.

Salah satu pelaku usaha yang terdampak cukup parah adalah Fahruzzaman, pemilik pabrik penggilingan padi di Kecamatan Manyak Payed. Banjir yang menerjang usahanya menyebabkan lebih dari 80 ton gabah terendam air. Selain itu, sekitar 40 ton beras yang telah siap dipasarkan juga rusak akibat terendam banjir.

Tidak hanya stok hasil produksi yang mengalami kerugian, sejumlah peralatan utama seperti mesin penggilingan dan mesin pengering padi juga mengalami kerusakan setelah terendam banjir. Kondisi tersebut membuat proses produksi terganggu dan memperlambat upaya pemulihan usaha.

“Dampak banjir yang terjadi beberapa waktu lalu masih sangat kami rasakan hingga saat ini. Kami berusaha memulai kembali usaha secara perlahan untuk bangkit dari keterpurukan, namun kondisi yang kami hadapi tidak mudah,” ujar Fahruz (2/6/2026).

Menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak hanya sebatas kerusakan fisik. Penurunan pemasaran yang cukup drastis turut memperburuk kondisi usaha yang sedang berusaha bangkit.

“Selain kerugian akibat rusaknya aset dan peralatan produksi, pemasaran hasil usaha kami juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap kemampuan usaha untuk kembali pulih seperti sebelumnya,” katanya.

Di tengah upaya pemulihan tersebut, Fahruz juga harus memikirkan kewajiban pembayaran pinjaman bank yang selama ini digunakan sebagai modal usaha. Meskipun pihak perbankan telah memberikan keringanan berupa restrukturisasi kredit, namun kondisi kerugian yang besar membuat beban usaha tetap terasa berat.

Fahruz mengaku hingga kini belum ada bantuan yang diterima untuk memperbaiki aset usaha yang rusak akibat banjir. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada pelaku UMKM yang terdampak bencana.

“Hingga saat ini, kerusakan aset yang kami alami juga belum mendapat sentuhan bantuan dari pemerintah. Kami berharap ada perhatian dan dukungan agar pelaku usaha yang terdampak banjir dapat kembali menjalankan usahanya dan mempertahankan keberlangsungan ekonomi keluarga maupun masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Harapan tersebut merujuk pada komitmen yang pernah disampaikan Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, saat meluncurkan program Klinik UMKM Bangkit di Aceh Tamiang pada 31 Desember 2025. Program tersebut diperkenalkan sebagai pusat pengaduan sekaligus bantuan bagi pelaku UMKM yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Bagi para pelaku UMKM di Aceh Tamiang, pemulihan pasca banjir tidak hanya tentang memperbaiki bangunan dan peralatan yang rusak. Lebih dari itu, mereka membutuhkan dukungan nyata agar usaha yang menjadi sumber penghidupan masyarakat dapat kembali berjalan normal dan menggerakkan roda perekonomian daerah.


-Jurnalis Yusradi -
















ACEH TAMIANG – Enam bulan lebih pasca banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih berjuang memulihkan usahanya. Selain menanggung kerugian akibat rusaknya aset dan tempat usaha, mereka juga harus menghadapi beban pinjaman modal di tengah menurunnya pendapatan.

Salah satu pelaku usaha yang terdampak cukup parah adalah Fahruzzaman, pemilik pabrik penggilingan padi di Kecamatan Manyak Payed. Banjir yang menerjang usahanya menyebabkan lebih dari 80 ton gabah terendam air. Selain itu, sekitar 40 ton beras yang telah siap dipasarkan juga rusak akibat terendam banjir.

Tidak hanya stok hasil produksi yang mengalami kerugian, sejumlah peralatan utama seperti mesin penggilingan dan mesin pengering padi juga mengalami kerusakan setelah terendam banjir. Kondisi tersebut membuat proses produksi terganggu dan memperlambat upaya pemulihan usaha.

“Dampak banjir yang terjadi beberapa waktu lalu masih sangat kami rasakan hingga saat ini. Kami berusaha memulai kembali usaha secara perlahan untuk bangkit dari keterpurukan, namun kondisi yang kami hadapi tidak mudah,” ujar Fahruz (2/6/2026).

Menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak hanya sebatas kerusakan fisik. Penurunan pemasaran yang cukup drastis turut memperburuk kondisi usaha yang sedang berusaha bangkit.

“Selain kerugian akibat rusaknya aset dan peralatan produksi, pemasaran hasil usaha kami juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap kemampuan usaha untuk kembali pulih seperti sebelumnya,” katanya.

Di tengah upaya pemulihan tersebut, Fahruz juga harus memikirkan kewajiban pembayaran pinjaman bank yang selama ini digunakan sebagai modal usaha. Meskipun pihak perbankan telah memberikan keringanan berupa restrukturisasi kredit, namun kondisi kerugian yang besar membuat beban usaha tetap terasa berat.

Fahruz mengaku hingga kini belum ada bantuan yang diterima untuk memperbaiki aset usaha yang rusak akibat banjir. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada pelaku UMKM yang terdampak bencana.

“Hingga saat ini, kerusakan aset yang kami alami juga belum mendapat sentuhan bantuan dari pemerintah. Kami berharap ada perhatian dan dukungan agar pelaku usaha yang terdampak banjir dapat kembali menjalankan usahanya dan mempertahankan keberlangsungan ekonomi keluarga maupun masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Harapan tersebut merujuk pada komitmen yang pernah disampaikan Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, saat meluncurkan program Klinik UMKM Bangkit di Aceh Tamiang pada 31 Desember 2025. Program tersebut diperkenalkan sebagai pusat pengaduan sekaligus bantuan bagi pelaku UMKM yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Bagi para pelaku UMKM di Aceh Tamiang, pemulihan pasca banjir tidak hanya tentang memperbaiki bangunan dan peralatan yang rusak. Lebih dari itu, mereka membutuhkan dukungan nyata agar usaha yang menjadi sumber penghidupan masyarakat dapat kembali berjalan normal dan menggerakkan roda perekonomian daerah.

































ACEH TAMIANG – Enam bulan lebih pasca banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih berjuang memulihkan usahanya. Selain menanggung kerugian akibat rusaknya aset dan tempat usaha, mereka juga harus menghadapi beban pinjaman modal di tengah menurunnya pendapatan.

Salah satu pelaku usaha yang terdampak cukup parah adalah Fahruzzaman, pemilik pabrik penggilingan padi di Kecamatan Manyak Payed. Banjir yang menerjang usahanya menyebabkan lebih dari 80 ton gabah terendam air. Selain itu, sekitar 40 ton beras yang telah siap dipasarkan juga rusak akibat terendam banjir.

Tidak hanya stok hasil produksi yang mengalami kerugian, sejumlah peralatan utama seperti mesin penggilingan dan mesin pengering padi juga mengalami kerusakan setelah terendam banjir. Kondisi tersebut membuat proses produksi terganggu dan memperlambat upaya pemulihan usaha.

“Dampak banjir yang terjadi beberapa waktu lalu masih sangat kami rasakan hingga saat ini. Kami berusaha memulai kembali usaha secara perlahan untuk bangkit dari keterpurukan, namun kondisi yang kami hadapi tidak mudah,” ujar Fahruz (2/6/2026).

Menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak hanya sebatas kerusakan fisik. Penurunan pemasaran yang cukup drastis turut memperburuk kondisi usaha yang sedang berusaha bangkit.

“Selain kerugian akibat rusaknya aset dan peralatan produksi, pemasaran hasil usaha kami juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini tentu berpengaruh besar terhadap kemampuan usaha untuk kembali pulih seperti sebelumnya,” katanya.

Di tengah upaya pemulihan tersebut, Fahruz juga harus memikirkan kewajiban pembayaran pinjaman bank yang selama ini digunakan sebagai modal usaha. Meskipun pihak perbankan telah memberikan keringanan berupa restrukturisasi kredit, namun kondisi kerugian yang besar membuat beban usaha tetap terasa berat.

Fahruz mengaku hingga kini belum ada bantuan yang diterima untuk memperbaiki aset usaha yang rusak akibat banjir. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada pelaku UMKM yang terdampak bencana.

“Hingga saat ini, kerusakan aset yang kami alami juga belum mendapat sentuhan bantuan dari pemerintah. Kami berharap ada perhatian dan dukungan agar pelaku usaha yang terdampak banjir dapat kembali menjalankan usahanya dan mempertahankan keberlangsungan ekonomi keluarga maupun masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Harapan tersebut merujuk pada komitmen yang pernah disampaikan Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, saat meluncurkan program Klinik UMKM Bangkit di Aceh Tamiang pada 31 Desember 2025. Program tersebut diperkenalkan sebagai pusat pengaduan sekaligus bantuan bagi pelaku UMKM yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Bagi para pelaku UMKM di Aceh Tamiang, pemulihan pasca banjir tidak hanya tentang memperbaiki bangunan dan peralatan yang rusak. Lebih dari itu, mereka membutuhkan dukungan nyata agar usaha yang menjadi sumber penghidupan masyarakat dapat kembali berjalan normal dan menggerakkan roda perekonomian daerah.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama